Minggu, 21 Februari 2021


REYA DAN ARTIKEL INTERNASIONALNYA

Karya, Fara Audina B.Q


Kuliah sore gue hari ini diisi dengan beberapa materi baru, pengetahuan baru dari Pak Dimas. Pak Dimas selaku dosen Fisika Modern gue, sekaligus Praktikumnya memberikan sebuah tugas. Yaitu, membuat artikel ilmiah, dengan data yang diambil dari data teman yang telah melakukan praktikum. Misalnya, gue kebagian praktikum besok adalah penentuan muatan spesifik elektron, sedangkan gue ‘kan belum praktikum topik itu, tapi Jevan dan Mahesa sudah. Jadi, gue pakai data Jevan dan Mahesa untuk gue susun sebagai artikel ilmiah. Sifat artikel ilmiah ini adalah individu. Jadi, nggak berkelompok.

“Oke, sudah jelas semua?” Tanya Pak Dimas di menit terakhir kelas praktikum fisika modern ini.

 “Mungkin cukup, bapak.” Ujar Haykal dengan mata kantuknya.

Iya sekarang jarum jam menunjukkan pukul setengah 5. Yang artinya, gue sama de geng –Nana, Jevan, Mahesa, Rendy, Haykal, Daffa— sudah dari pagi sampai jam segini betah di kampus. Maklum hari senin. Tadi pagi udah full sama mata kuliah yang 4 SKS itu tuh, yang kejadian Jevan nggak bawa flashdisk. Ingat ‘kan kalian?

“Haykal sudah capek ya?” Goda Pak Dimas sembari beliau berdiri dari duduknya, “Ya sudah, pembelajaran saya akhiri disini. Tenggat artikel ilmiah 2 minggu. Lewat deadline tidak akan saya terima. Terima kasih…” Lanjut beliau lalu meninggalkan kami ke ruang pantau monitor.

Selepas itu, kelas gue sibuk merenggangkan pinggang, ada yang pasang posisi nyaman, kayak Haykal sekarang yang malah  rebahan di lantai, dan ada sebagian yang memilih melepas jas lab dan langsung keluar dari ruangan. Sedangkan gue sendiri masih sibuk bercengkrama dengan Nana.

“Gimana, Na? Setuju nggak?” Tawar gue kepada Nana ketika melihat ekspresinya yang mulai mempertimbangkan sesuatu.

“Heh! Lo berdua nawar apaan? Mana nggak ngajak gue lagi.” Sahut Haykal segera bangkit dari posisi rebahannya.

“Reya ngajak gue ngerjain artikel ilmiah di kanopi. Ikut nggak?” Jawab Nana sambil menyampirkan tasnya di bahu.

“Loh, Reya kan pakai data gue. Kenapa malah lo yang diajak ngerjain bareng?” Tutur Jevan yang mendengarkan obrolan gue, Nana, dan Haykal merasa tak terima.

“Tinggal join aja ribet lu…” Ledek gue sambil berlalu melewatinya. Namun, beberapa detik kemudian yang lain juga pada ngikutin untuk keluar dari ruangan.


-❤❤❤-


Hari mulai petang ketika gue dan de geng membuka laptop masing-masing dan mempersiapkan segala perkakas sebelum berperang dengan beberapa artikel untuk menyusun artikel ilmiah. Nggak semua member sih kumpul, hanya ada Nana, dan Haykal disini. Daffa, Rendy, Mahesa, dan Jevan pergi beliin makan malam buat kita-kita. Seperti biasa, Bandar gofood lagi nggak ada duit buat pesen, jadi manual aja dah alias nyamperin penjualnya.

“Ngomong-ngomong gue ngantuk banget gila.” Seru Haykal yang berada di samping gue. Detik kemudian kepalanya sudah ia sandarkan ke atas meja sembari menelungkupkan kedua tangannya.

“Tidur aja, Kal. Ntar bangun pas mau pulang aja.” Ujar Nana mengusili Haykal yang nggak bergeming dari posisinya. Kayaknya Haykal lagi beneran ngantuk deh…

“Rey…”

“Hm?”

“Rey…”

“Apa sih, Na?”

“Tumben lo tadi nggak ada interaksi-interaksi sama Pak Dimas? Berantem ya?”

“Enggak. Kenapa sih malah bahas Pak Dimas?”

“Ya kan kita lagi ngerjain tugas dari beliau. Masa lagi ngerjain fismod, bahasnya Pak Hadi.” Sewot Nana nggak terima.

“Ya bener juga sih…”

Beberapa detik kemudian percakapan gue sama Nana berhenti karena yang beli makanan sudah datang. Jevan membagikan nasi bungkus yang ia pesan. Total ada 7 nasi bungkus. Sedangkan Rendy bagiin minuman yang ia pesan, ada beraneka rasa karena ya selera orang berbeda-beda. Kaya gue lebih suka Thai Tea, sedangkan Nana Cappucino, Jevan Milo, ya jadi beda-beda lah intinya.

“Ini tadi pakai uangnya siapa dulu?” Tanya gue sambil membuka nasi bungkus ke arah Mahesa yang mengambil tempat duduk di depan gue.

“Kalau minum, Rendy. Terus kalau makannya, Jevan.” Jawab Mahesa sebelum menyedot bubble drink-nya.

“Oh… ini makan duluan yak, biar nggak laper habis ini kita eksekusi.”

Selanjutnya kami makan dengan diam namun sesekali diisi oleh percakapan singkat dari Jevan, dan tentunya usilan Daffa yang mencoba membangunkan Haykal.


-❤❤❤-



Habis makan, masing-masing membereskan bungkus makanannya sendiri dan beranjak cuci tangan di wastafel bawah tangga. Kita sengaja nggak bangunin Haykal buat makan, karena ya dibangunin juga nggak ada tanda-tanda buat bangun. Terus anaknya juga kelihatan capek banget. Jadi yaudahlah, biarin.

“Kata Pak Dimas berapa rujukannya?” Tanya Mahesa sebagai pembukaan sehabis makan malam

Iya guys, kita sampai malam disini. It’s okay meskipun masih 2 minggu lagi, seenggaknya dicicil. Mau disini dua jam tiga jam juga nggak masalah. Yang penting nggak lama-lama.

“Dua puluhan kata Pak Dimas. Terus diwajibkan ada artikel internasionalnya juga.” Sahut Daffa dengan matanya yang fokus pada layar laptop.

“Gila banget nggak sih dua puluh artikel? Yang inter berapa?” Timpal Jevan mengompori untuk melanjutkan obrolan.

“Lima.” Tukas Rendy cepat dengan tangannya yang sedaritadi tidak diam untuk membangunkan Haykal.

“Kal, woy.. bangun… anak-anak udah mulai progress nih. Lo makan dulu kek, ntar nasi lo dingin terus minuman lo cair.” Ucap Rendy tepat di telinga Haykal dengan sedikit berteriak.

“Ck, berisik lo, Ren! Lagian minuman kan emang udah cair.” Gumam Haykal sembari menggeliatkan sedikit badannya. Kemudian lanjut tidur lagi.

“Yaudah terserah.”

“Eh, gue udah dapet artikel inter.” Seloroh Mahesa dengan muka girangnya, “Bahasa inggris kan?” Lanjutnya lagi yang tampak ragu dengan artikel yang ia peroleh.

“Iya, bahasa inggris.” Jawab Jevan yang ada di sebelah Mahesa.

“Hng, kok gue ragu ya? Soalnya kayak…bentar, gue kirim di grup deh. Coba lo pada lihat.” Jelas Mahesa sembari tangannya dengan cepat menari-nari di atas keyboard.

Begitu ada notifikasi Whatsapp dari grup kita, gue langsung cepat mengunduh pdf yang telah dikirim Mahesa dan nge-check benar tidaknya yang dimaksud Mahesa.

“Gimana? Udah pada buka belum?” Tanya Mahesa ke semuanya

“Bentar, masih loading. Kayaknya ini wifi-nya nggak mau temenan sama laptop gue deh,” Keluh Daffa yang ternyata masih sibuk mengatur koneksi internet.

“Siniin gue bantu.” Tanpa berkata apapun lagi, Rendy menyeret laptop Daffa hingga dekat dari jangkauannya.

“Lo gimana, Rey?” Mahesa melemparkan pertanyaan itu ke gue seorang diri.

Gue bersyukur dalam hati karena sebelum ini, gue pernah diajarin sama Pak Dimas bagaimana cara bedain ini tuh artikel internasional apa enggak. Soalnya kan bahasa inggris. Jadinya gue ngira kalau bahasa inggris, sudah jelas ini artikel internasional. Namun, kata beliau ternyata itu salah. Ada beberapa kriteria sebenarnya.

“Ya kalau gini sih Mahes… bukan artikel internasional lah.”

“Kok bisa gitu, Rey?” Tanya Jevan, Nana, dan Mahesa serempak.

“Gini. Jadi, yang lo kirim ini artikel internasional apa bukan, lo bisa identifikasi kriteria-kriterianya dulu. Nggak serta merta yang pakai bahasa inggris, lo anggap artikel inter. Nggak gitu.” Gue mencoba menjelaskan dengan pelan-pelan. Pun dengan Rendy dan Daffa yang telah selesai dengan kegiatannya –mengatur koneksi internet—

“Terus kriterianya apa dong?” Sambung Nana sembari mengerutkan keningnya bingung.

Check-in satu-satu ya…” Pinta gue ke Mahesa.

“Siap, Rey..”

“Ditulis sesuai dengan kaidah ilmiah dan etika keilmuan.”

“Iya, cocok.”

“Ada ISSN-nya nggak?”

“Eh, nggak ada dong. Aduh bego banget gue.”

“Nah kan, udah berarti bukan inter itu. Internya abal-abal.”

“Oke deh, makasih ya, Rey. Gue coba cari lagi deh…”

Gue mengangguk sebagai jawaban. Kemudian beberapa detik selanjutnya Jevan beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah gue dan mengangkat Haykal dengan sekali ringannya. Lalu, ia baringkan di kursi miliknya. Kebetulan Jevan ada di depan gue tadi, dan tempat duduknya tuh bukan kursi satuan, tapi kayak kursi panjang gitu. Jadi, buat rebahan Haykal. Merasa kasian kali.

“Lah, malah deket-deket gue. Ngapain?” Tanya gue kebingungan ketika Jevan malah mengambil duduk di sebelah gue.

“Mau deket sama lo aja, hehe.” Tutur Jevan lembut sambil tersenyum lebar.

“Yee, gue kira lo ngerasa kasian sama Haykal. Makanya lo peka.” Jawab gue sembari menoyor sedikit kepalanya.

“Lo juga peka dong.”

“Dih apaan sih…”

“Yaudah, yaudah, sebenarnya gue cuma pengen nanya doang kok, Rey.”

“Nanya apaan?”

“Buset galak bener.”

“Iya nanya apa Jevan ganteng?”

“Kriteria artikel internasional tuh apa aja sih? Biar gue bisa memilah-milah artikel inter gitu. Lo pasti diajarin sama Pak Dimas ya?”

“Sotoy luuu..”

“Gue kan cuma nebak.”

“Yaudah.. Jadi, lo kalau mau nyari artikel internasional dicheck-in dulu. Yang pertama ditulis sesuai kaidah ilmiah, yang kedua ada ISSNnya, terus pakai bahasa resmi PBB, jadi nggak bahasa inggris aja sih sebenarnya. Ada bahasa arab, rusia, terus ada terbitan onlinenya, habis itu dikelola secara professional, terus editornya tuh pakar ahli di bidangnya. Dan itu tuh minimal berasal dari empat Negara gitulah. Terus lo ambil jurnalnya tuh dimana itu penting. Jangan asal ambil aja kayak dari slideshare lo ambil, jangan atuh. Usahain jurnalnya tuh ada karya ilmiah yang ditulis dari berbagai Negara, terus artikel di dalamnya nih, diterbitkan dalam satu issue gitu yang ditulis dari berbagai Negara. Kalau mau yang bereputasi, berarti harus terindeks scopus atau sesuai sama laman-laman yang dipertimbangin sama tim pakar Ditjen Dikti.” Gue menjelaskan sembari memperlihatkan salah satu artikel internasional benar yang telah gue temui. Maksud gue, udah sesuai kriteria gitu.

“Ah, I see. Pantesan gue sering kena zonk mulu. Kayak Mahesa juga sih…”

“Hooh, gue malah langganan. Ya gue mana tau, Rey. Penting bahasa inggris terus dapat kayak dari link apa gitu intinya nggak dari blogspot ya gue anggep inter. Bego banget kan gue?” Sahut Mahesa dari tempat duduknya dan menyedot Green Tea-nya yang belum habis.

“Nggak apa-apa kali. Kan namanya belajar. Sekarang kan lo udah tau, makin bagus dong nyari artikelnya ntar. Lagian baru semester 4, nggak apa-apa. Pelan-pelan.”

“Sayang deh sama, Reya. Thanks ya, Rey..” Ujar Mahesa dengan tulus dengan melemparkan pandangan hangat ke arah gue.

“Gue juga..” Ujar Jevan sama, pun dengan tangannya yang mencoba mengetikkan sesuatu di search engine. “Lo kayak gitu beneran nyari-nyari sendiri apa diajarin Pak Dimas sih?” Lanjutnya tanpa menatap gue.

“Diajarin lah. Soalnya gue nanya. Coba gue nggak nanya juga beliau nggak bakal ngajarin. Makanya lo kalau di kelas, nanya juga dong..”

“Hehe, yaudah yok bisa yok… semaleman ini nyari referensi aja dulu yang sekiranya pas sama topic praktikum kita. Batasi nggak?” Tawar Jevan ke lainnya sembari berdiri dan jalan menuju Haykal. Ia berusaha membangunkan Haykal sekali lagi.

“Harus lah. Gila kali semaleman disini. Jam 9 aja deh.” Usul Rendy yang semula hanya tim nyimak.

“Yaudah guys, banyakin artikelnya. Habis itu pulang. Udah malem juga. eh tapi kok kanopi makin rame ya tolong…” Racau Daffa tidak jelas namun tetap saja diangguki Nana.

 


-❤❤❤-

.

.

notes!

teman-teman SparklingDoy, disini pakai nama lokal ya^^

Kim Doyoung as Pak Dimas

Huang Renjun as Rendy

Lee Jeno as Jevan

Na Jaemin as Nana

Lee Haechan as Haykal

Park Jisung as Daffa

Mark Lee as Mahesa

see you^^

wattpad : @/SparklingDoy

 

Jumat, 19 Februari 2021

 

PROBLEMATIKA SISWI TERLAMBAT

Karya, Fara Audina B.Q

 

SMA Impian Bunda merupakan SMA favorit Di Kota Jakarta. SMA tersebut merupakan SMA yang menjunjung nilai-nilai dan norma yang berlaku secara tinggi. Tidak heran, pagi hari ini Reya dibuat kelimpungan dengan keterlambatannya menuju sekolah. Siapa sangka, ia akan mematikan alarmnya ketika pengingat itu bordering tepat jam lima pagi. Hingga, Reya hanya bermodalkan cuci muka, dan gosok gigi saja tanpa memakan sarapan yang telah disiapkan oleh bunda.

Nggak, gue nggak bisa lama-lama. Kena hukum Pak Dimas, mati gue.” Rutuk Reya di dalam hati sambil memakai kaos kaki secara terburu-buru.

“Reya… sarapan dulu sayang…” Teriak Ranty, Bunda Reya dari arah meja makan.

“Nggak ada waktu, bun. Mending bunda bekalin aja buat, Reya. Nanti Reya makan pas istirahat.” Jawab Reya sembari memakai sepatu.

“Kamu sih, udah bunda bangunin nggak bangun-bangun. Tapi masih 20 menit lagi, Reya…” Ujar Ranty sambil membawakan nampan yang berisi segelas susu dan bekal Reya.

“Nggak bisa, bun. Reya takut telat. Jam pertama mapelnya fisika soalnya.”

“Yaudah, minum susu dulu aja kalau gitu.” Seru Ranty dengan tangannya menyodorkan segelas susu untuk Reya.

Setelah itu, Reya menenggak segelas susu yang diberikan oleh bunda dan meminumnya dengan habis. Tak lupa bunda memasukkan bekal ke dalam tas Reya.

“Berangkat dulu ya, bun. Mwah…” Pamit Reya ke Ranty sambil mengecup pipinya.

Dengan sedikit berlari, Reya menyusuri jalanan seorang diri, mengingat jarak sekolah dari rumah hanya seribu centi.


-❤-

Setibanya di dalam kelas, Reya sudah menduga bahwa ia akan telat. Yeah, Reya sangat membenci itu. Telat pada jam pelajaran Pak Dimas. Sangat horor sekali. Namun, apa boleh buat. Lebih baik terlambat daripada tidak datang, itulah prinsip Reya selama sekolah.

Menetralkan sedikit napasnya yang ngos-ngosan, Reya meraih botol minum di saku tasnya sebelum mengetuk pintu.

Hingga ketukan ketiga, tidak ada sautan dari dalam atau bahkan Pak Dimas keluar untuk membuka pintu pun tidak ada, sampai akhirnya Reya memberanikan diri untuk membuka pintu dan mengucapkan selamat pagi kepada Pak Dimas yang sedang mengabsen siswa.

“Hei, siapa nama kamu?” Cegah Pak Dimas ketika melihat anak didiknya berjalan melewati mejanya.

“Reya bapak, Keyscaxandra Reya.”

“Berdiri disitu.” Titah Pak Dimas dengan suara dinginnya.

Udah gue duga akan begini.” Racau Reya di dalam hati.

Menunggu Pak Dimas mengabsen satu persatu siswa, hingga maniknya menatap beberapa temannya yang sedang menyemangatinya dari meja.

Fighting, kawan!” Itu teman-temannya di meja belakang sedang mengirimkan semangat ke arah Reya.

Benar-benar kelas terasa sedikit sunyi dan seram. Padahal jika dilihat menurut Reya, Pak Dimas tidak ada seram-seramnya. Malahan, beliau terlihat tenang dengan wajahnya. Tidak ada keseraman sedikit pun di wajahnya.

Reya berusaha mengalihkan fokusnya agar tidak menatap Pak Dimas terlalu lama. Karena ia akan tau kejadian selanjutnya seperti apa.

“Pak Dimas, Reya lagi natap bapak.” Celetuk Jena dan Jojo yang sedang bersekongkol ngerecokin Pak Dimas dan juga Reya.

Sekedar informasi, Pak Dimas adalah guru termuda di SMA Impian Bunda. Beliau mengajar mata pelajaran fisika. Khususnya mengajar kelas 11. Tak heran jika beberapa siswa kerap kali menggoda Pak Dimas atau bahkan meledek. Sebagian siswa cowok juga tidak segan untuk mengajak beliau berbicara dengan non-formal. Untuk itu, terkadang disitulah letak ketegasan Pak Dimas dalam mengatasi tingkah siswa-siswinya yang terlewat kurang sopan menurutnya.

“Reya, silahkan duduk.” Melihatnya tidak tega, akhirnya Pak Dimas mempersilahkan Reya untuk duduk.

“Cie, Pak Dimas nggak tega lihat bidadarinya berdiri lama-lama ya…”

Semua bersorak ke arah Pak Dimas. Bahkan ada yang sampai mengeluarkan siulan serta bertepuk tangan. Hal itu sukses mengundang tanda tanya bagi Reya. Menurutnya, ini merupakan hal langka teman-temannya dapat mengejek Pak Dimas saat pembelajaran di  kelas. Biasanya, mereka akan meledek Pak Dimas jika berpapasan saja.

“Cie, lo dicengcengin sama Pak Dimas. Tumpengan nggak nih? Lo kan naksir sama doi.” Bisik Felis sambil menyikut lengan Reya ketika Reya menempatkan diri di sampingnya.

“Oke, adik-adik. Silahkan di tutup buku kalian. Bapak akan memberikan respon kepada kalian. Ingat, jangan ada yang mencuri-curi kesempatan seperti, apa Reya tolong sebutkan…” Terang Pak Dimas sembari langkahnya menuju depan papan tulis.

“Membuka secara perlahan buku fisika, Pak.”

“Kenceng juga nggak apa-apa, Rey.” Sahut Benny selaku ketua kelas malah mengompori suasana. Hal tersebut membuat Pak Dimas melemparkan pertanyaan kedua kepada Benny.

“Nomor dua apa, Benny?”

“Enggg..itu pak, tidak boleh berdiskusi dengan teman sebangku, kanan kiri, depan belakang.”

Good. Respon pertama, mulai dari Andin, tolong sebutkan sifat-sifat cahaya. Tidak boleh sama dengan temannya. Silahkan.”

Dan respon sebagai pembuka kelas fisika di pagi hari pun berlangsung tenang saat itu.


-❤-

Beberapa menit lagi, mata pelajaran fisika akan selesai. Pak Dimas memulai membereskan beberapa peralatan yang sedikit berserakan di meja. Dan hendak mematikan laptop.

“Oke, adik-adik. Sampai disini apakah ada yang perlu ditanyakan lagi?”

“Saya Pak, saya,,” Itu Monica yang berseru dengan semangat. Sepertinya ia memang sudah ingin menanyakan sesuatu kepada Pak Dimas.

“Ya, Monica. Silahkan.”

“Bapak kenapa sih tidak pernah marah atau salah tingkat bahkan abai dengan tindakan-tindakan kami yang menurut kami ya nggak penting juga sih, Pak. Hehe…”

Pak Dimas yang semula sedang memastikan laptopnya shut down dengan sempurna, beranjak dari kursi dan mulai mengitari meja peserta didiknya satu persatu.

“Dengar… dimana pun kalian berada, kalian tetap harus bersikap professional. Tuntun apabila anak didikmu salah, nasihati apabila anak didikmu bertingkah. Kalian semua ini adalah anak didik saya. Bagaimana saya akan menanggapi kalian yang terus berbicara tentang saya dan Reya. Tidak ada hubungan seperti itu. Baik Reya atau Monica, kalian semua sama. Sama-sama anak didik saya. Saya tidak mungkin akan salah tingkah atau bahkan ikut menimpali candaan kalian.   Karena saya tau, itu tidak baik walau niatnya hanya bercanda. Gunakan candaan kalian pada tempatnya, kalian juga perlu mengingat bahwa sekolah kita menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku. Jika saya menanggapi, lantas akan jadi apa sekolah ini?”

“Jadi Pak Dimas biasa saja sama Reya? Tidak naksir gitu, Pak? Reya cantik loh, Pak. Saya aja naksir seandainya saya cowok.” Sahut Hani yang berada di meja belakang.

“Tidak. Salah satu profesionalisme guru adalah mengarahkan dan menumbuhkan pola perilaku siswa. Jadi sama guru yang sopan, sebelum berkata dirangkai dulu mana kosakata yang benar. Gunakan bahasa Indonesia yang formal, dan jangan pernah merendahkan guru. Mengapa saya tidak pernah melakukan kekerasan kepada siswa meskipun saya diejek, atau dibuat marah sama kalian? Karena dalam kode etik guru, yang salah satunya berbunyi “Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang berpancasila” tetapi tidak menggunakan kekerasan/fisik ya… Jadi perlu diingat untuk adik-adik. Ayo, sama-sama kita belajar, belajar lebih baik.”

“Wah, Pak Dimas… saya makin ngefans sama bapak…” Puji Monica dengan menangkupkan kedua tangannya.

“Oke, itu saja. Reya ada pertanyaan?” Celetuk Pak Dimas iseng.

“Loh, Pak Dimas katanya…” Ujar Jojo dengan muka bingungnya

“Saya hanya bertanya saja. Jika tidak ada, bisa saya akhiri.”

 

-tobecontinue-