PROBLEMATIKA SISWI TERLAMBAT
Karya,
Fara Audina B.Q
SMA Impian Bunda
merupakan SMA favorit Di Kota Jakarta. SMA tersebut merupakan SMA yang
menjunjung nilai-nilai dan norma yang berlaku secara tinggi. Tidak heran, pagi
hari ini Reya dibuat kelimpungan dengan keterlambatannya menuju sekolah. Siapa
sangka, ia akan mematikan alarmnya ketika pengingat itu bordering tepat jam
lima pagi. Hingga, Reya hanya bermodalkan cuci muka, dan gosok gigi saja tanpa
memakan sarapan yang telah disiapkan oleh bunda.
“Nggak, gue nggak bisa lama-lama. Kena hukum Pak Dimas, mati gue.”
Rutuk Reya di dalam hati sambil memakai kaos kaki secara terburu-buru.
“Reya… sarapan dulu sayang…”
Teriak Ranty, Bunda Reya dari arah meja makan.
“Nggak ada waktu, bun.
Mending bunda bekalin aja buat, Reya. Nanti Reya makan pas istirahat.” Jawab
Reya sembari memakai sepatu.
“Kamu sih, udah bunda
bangunin nggak bangun-bangun. Tapi masih 20 menit lagi, Reya…” Ujar Ranty
sambil membawakan nampan yang berisi segelas susu dan bekal Reya.
“Nggak bisa, bun. Reya
takut telat. Jam pertama mapelnya fisika soalnya.”
“Yaudah, minum susu
dulu aja kalau gitu.” Seru Ranty dengan tangannya menyodorkan segelas susu
untuk Reya.
Setelah itu, Reya
menenggak segelas susu yang diberikan oleh bunda dan meminumnya dengan habis.
Tak lupa bunda memasukkan bekal ke dalam tas Reya.
“Berangkat dulu ya,
bun. Mwah…” Pamit Reya ke Ranty sambil mengecup pipinya.
Dengan
sedikit berlari, Reya menyusuri jalanan seorang diri, mengingat jarak sekolah
dari rumah hanya seribu centi.
-❤❤❤-
Setibanya di dalam
kelas, Reya sudah menduga bahwa ia akan telat. Yeah, Reya sangat membenci itu.
Telat pada jam pelajaran Pak Dimas. Sangat horor sekali. Namun, apa boleh buat.
Lebih baik terlambat daripada tidak
datang, itulah prinsip Reya selama sekolah.
Menetralkan sedikit
napasnya yang ngos-ngosan, Reya meraih botol minum di saku tasnya sebelum
mengetuk pintu.
Hingga ketukan ketiga,
tidak ada sautan dari dalam atau bahkan Pak Dimas keluar untuk membuka pintu
pun tidak ada, sampai akhirnya Reya memberanikan diri untuk membuka pintu dan
mengucapkan selamat pagi kepada Pak Dimas yang sedang mengabsen siswa.
“Hei, siapa nama kamu?”
Cegah Pak Dimas ketika melihat anak didiknya berjalan melewati mejanya.
“Reya bapak,
Keyscaxandra Reya.”
“Berdiri disitu.” Titah
Pak Dimas dengan suara dinginnya.
“Udah gue duga akan begini.” Racau Reya di dalam hati.
Menunggu Pak Dimas
mengabsen satu persatu siswa, hingga maniknya menatap beberapa temannya yang
sedang menyemangatinya dari meja.
“Fighting, kawan!” Itu teman-temannya di meja belakang sedang
mengirimkan semangat ke arah Reya.
Benar-benar kelas
terasa sedikit sunyi dan seram. Padahal jika dilihat menurut Reya, Pak Dimas
tidak ada seram-seramnya. Malahan, beliau terlihat tenang dengan wajahnya.
Tidak ada keseraman sedikit pun di wajahnya.
Reya berusaha
mengalihkan fokusnya agar tidak menatap Pak Dimas terlalu lama. Karena ia akan
tau kejadian selanjutnya seperti apa.
“Pak Dimas, Reya lagi
natap bapak.” Celetuk Jena dan Jojo yang sedang bersekongkol ngerecokin Pak
Dimas dan juga Reya.
Sekedar informasi, Pak
Dimas adalah guru termuda di SMA Impian Bunda. Beliau mengajar mata pelajaran
fisika. Khususnya mengajar kelas 11. Tak heran jika beberapa siswa kerap kali
menggoda Pak Dimas atau bahkan meledek. Sebagian siswa cowok juga tidak segan
untuk mengajak beliau berbicara dengan non-formal. Untuk itu, terkadang
disitulah letak ketegasan Pak Dimas dalam mengatasi tingkah siswa-siswinya yang
terlewat kurang sopan menurutnya.
“Reya, silahkan duduk.”
Melihatnya tidak tega, akhirnya Pak Dimas mempersilahkan Reya untuk duduk.
“Cie, Pak Dimas nggak
tega lihat bidadarinya berdiri lama-lama ya…”
Semua bersorak ke arah
Pak Dimas. Bahkan ada yang sampai mengeluarkan siulan serta bertepuk tangan.
Hal itu sukses mengundang tanda tanya bagi Reya. Menurutnya, ini merupakan hal
langka teman-temannya dapat mengejek Pak Dimas saat pembelajaran di kelas. Biasanya, mereka akan meledek Pak
Dimas jika berpapasan saja.
“Cie, lo dicengcengin
sama Pak Dimas. Tumpengan nggak nih? Lo kan naksir sama doi.” Bisik Felis
sambil menyikut lengan Reya ketika Reya menempatkan diri di sampingnya.
“Oke, adik-adik.
Silahkan di tutup buku kalian. Bapak akan memberikan respon kepada kalian.
Ingat, jangan ada yang mencuri-curi kesempatan seperti, apa Reya tolong
sebutkan…” Terang Pak Dimas sembari langkahnya menuju depan papan tulis.
“Membuka secara
perlahan buku fisika, Pak.”
“Kenceng juga nggak
apa-apa, Rey.” Sahut Benny selaku ketua kelas malah mengompori suasana. Hal
tersebut membuat Pak Dimas melemparkan pertanyaan kedua kepada Benny.
“Nomor dua apa, Benny?”
“Enggg..itu pak, tidak
boleh berdiskusi dengan teman sebangku, kanan kiri, depan belakang.”
“Good. Respon pertama, mulai dari Andin, tolong sebutkan sifat-sifat
cahaya. Tidak boleh sama dengan temannya. Silahkan.”
Dan
respon sebagai pembuka kelas fisika di pagi hari pun berlangsung tenang saat
itu.
-❤❤❤-
Beberapa menit lagi,
mata pelajaran fisika akan selesai. Pak Dimas memulai membereskan beberapa
peralatan yang sedikit berserakan di meja. Dan hendak mematikan laptop.
“Oke, adik-adik. Sampai
disini apakah ada yang perlu ditanyakan lagi?”
“Saya Pak, saya,,” Itu
Monica yang berseru dengan semangat. Sepertinya ia memang sudah ingin
menanyakan sesuatu kepada Pak Dimas.
“Ya, Monica. Silahkan.”
“Bapak kenapa sih tidak
pernah marah atau salah tingkat bahkan abai dengan tindakan-tindakan kami yang
menurut kami ya nggak penting juga sih, Pak. Hehe…”
Pak Dimas yang semula
sedang memastikan laptopnya shut down dengan sempurna, beranjak dari kursi dan
mulai mengitari meja peserta didiknya satu persatu.
“Dengar… dimana pun
kalian berada, kalian tetap harus bersikap professional. Tuntun apabila anak
didikmu salah, nasihati apabila anak didikmu bertingkah. Kalian semua ini
adalah anak didik saya. Bagaimana saya akan menanggapi kalian yang terus
berbicara tentang saya dan Reya. Tidak ada hubungan seperti itu. Baik Reya atau
Monica, kalian semua sama. Sama-sama anak didik saya. Saya tidak mungkin akan
salah tingkah atau bahkan ikut menimpali candaan kalian. Karena saya tau, itu tidak baik walau niatnya
hanya bercanda. Gunakan candaan kalian pada tempatnya, kalian juga perlu
mengingat bahwa sekolah kita menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku. Jika
saya menanggapi, lantas akan jadi apa sekolah ini?”
“Jadi Pak Dimas biasa
saja sama Reya? Tidak naksir gitu, Pak? Reya cantik loh, Pak. Saya aja naksir
seandainya saya cowok.” Sahut Hani yang berada di meja belakang.
“Tidak. Salah satu
profesionalisme guru adalah mengarahkan dan menumbuhkan pola perilaku siswa.
Jadi sama guru yang sopan, sebelum berkata dirangkai dulu mana kosakata yang
benar. Gunakan bahasa Indonesia yang formal, dan jangan pernah merendahkan
guru. Mengapa saya tidak pernah melakukan kekerasan kepada siswa meskipun saya
diejek, atau dibuat marah sama kalian? Karena dalam kode etik guru, yang salah
satunya berbunyi “Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk
manusia pembangunan yang berpancasila” tetapi tidak menggunakan kekerasan/fisik
ya… Jadi perlu diingat untuk adik-adik. Ayo, sama-sama kita belajar, belajar
lebih baik.”
“Wah, Pak Dimas… saya
makin ngefans sama bapak…” Puji Monica dengan menangkupkan kedua tangannya.
“Oke, itu saja. Reya
ada pertanyaan?” Celetuk Pak Dimas iseng.
“Loh, Pak Dimas
katanya…” Ujar Jojo dengan muka bingungnya
“Saya hanya bertanya saja.
Jika tidak ada, bisa saya akhiri.”
-tobecontinue-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar