Jumat, 19 Februari 2021

 

PROBLEMATIKA SISWI TERLAMBAT

Karya, Fara Audina B.Q

 

SMA Impian Bunda merupakan SMA favorit Di Kota Jakarta. SMA tersebut merupakan SMA yang menjunjung nilai-nilai dan norma yang berlaku secara tinggi. Tidak heran, pagi hari ini Reya dibuat kelimpungan dengan keterlambatannya menuju sekolah. Siapa sangka, ia akan mematikan alarmnya ketika pengingat itu bordering tepat jam lima pagi. Hingga, Reya hanya bermodalkan cuci muka, dan gosok gigi saja tanpa memakan sarapan yang telah disiapkan oleh bunda.

Nggak, gue nggak bisa lama-lama. Kena hukum Pak Dimas, mati gue.” Rutuk Reya di dalam hati sambil memakai kaos kaki secara terburu-buru.

“Reya… sarapan dulu sayang…” Teriak Ranty, Bunda Reya dari arah meja makan.

“Nggak ada waktu, bun. Mending bunda bekalin aja buat, Reya. Nanti Reya makan pas istirahat.” Jawab Reya sembari memakai sepatu.

“Kamu sih, udah bunda bangunin nggak bangun-bangun. Tapi masih 20 menit lagi, Reya…” Ujar Ranty sambil membawakan nampan yang berisi segelas susu dan bekal Reya.

“Nggak bisa, bun. Reya takut telat. Jam pertama mapelnya fisika soalnya.”

“Yaudah, minum susu dulu aja kalau gitu.” Seru Ranty dengan tangannya menyodorkan segelas susu untuk Reya.

Setelah itu, Reya menenggak segelas susu yang diberikan oleh bunda dan meminumnya dengan habis. Tak lupa bunda memasukkan bekal ke dalam tas Reya.

“Berangkat dulu ya, bun. Mwah…” Pamit Reya ke Ranty sambil mengecup pipinya.

Dengan sedikit berlari, Reya menyusuri jalanan seorang diri, mengingat jarak sekolah dari rumah hanya seribu centi.


-❤-

Setibanya di dalam kelas, Reya sudah menduga bahwa ia akan telat. Yeah, Reya sangat membenci itu. Telat pada jam pelajaran Pak Dimas. Sangat horor sekali. Namun, apa boleh buat. Lebih baik terlambat daripada tidak datang, itulah prinsip Reya selama sekolah.

Menetralkan sedikit napasnya yang ngos-ngosan, Reya meraih botol minum di saku tasnya sebelum mengetuk pintu.

Hingga ketukan ketiga, tidak ada sautan dari dalam atau bahkan Pak Dimas keluar untuk membuka pintu pun tidak ada, sampai akhirnya Reya memberanikan diri untuk membuka pintu dan mengucapkan selamat pagi kepada Pak Dimas yang sedang mengabsen siswa.

“Hei, siapa nama kamu?” Cegah Pak Dimas ketika melihat anak didiknya berjalan melewati mejanya.

“Reya bapak, Keyscaxandra Reya.”

“Berdiri disitu.” Titah Pak Dimas dengan suara dinginnya.

Udah gue duga akan begini.” Racau Reya di dalam hati.

Menunggu Pak Dimas mengabsen satu persatu siswa, hingga maniknya menatap beberapa temannya yang sedang menyemangatinya dari meja.

Fighting, kawan!” Itu teman-temannya di meja belakang sedang mengirimkan semangat ke arah Reya.

Benar-benar kelas terasa sedikit sunyi dan seram. Padahal jika dilihat menurut Reya, Pak Dimas tidak ada seram-seramnya. Malahan, beliau terlihat tenang dengan wajahnya. Tidak ada keseraman sedikit pun di wajahnya.

Reya berusaha mengalihkan fokusnya agar tidak menatap Pak Dimas terlalu lama. Karena ia akan tau kejadian selanjutnya seperti apa.

“Pak Dimas, Reya lagi natap bapak.” Celetuk Jena dan Jojo yang sedang bersekongkol ngerecokin Pak Dimas dan juga Reya.

Sekedar informasi, Pak Dimas adalah guru termuda di SMA Impian Bunda. Beliau mengajar mata pelajaran fisika. Khususnya mengajar kelas 11. Tak heran jika beberapa siswa kerap kali menggoda Pak Dimas atau bahkan meledek. Sebagian siswa cowok juga tidak segan untuk mengajak beliau berbicara dengan non-formal. Untuk itu, terkadang disitulah letak ketegasan Pak Dimas dalam mengatasi tingkah siswa-siswinya yang terlewat kurang sopan menurutnya.

“Reya, silahkan duduk.” Melihatnya tidak tega, akhirnya Pak Dimas mempersilahkan Reya untuk duduk.

“Cie, Pak Dimas nggak tega lihat bidadarinya berdiri lama-lama ya…”

Semua bersorak ke arah Pak Dimas. Bahkan ada yang sampai mengeluarkan siulan serta bertepuk tangan. Hal itu sukses mengundang tanda tanya bagi Reya. Menurutnya, ini merupakan hal langka teman-temannya dapat mengejek Pak Dimas saat pembelajaran di  kelas. Biasanya, mereka akan meledek Pak Dimas jika berpapasan saja.

“Cie, lo dicengcengin sama Pak Dimas. Tumpengan nggak nih? Lo kan naksir sama doi.” Bisik Felis sambil menyikut lengan Reya ketika Reya menempatkan diri di sampingnya.

“Oke, adik-adik. Silahkan di tutup buku kalian. Bapak akan memberikan respon kepada kalian. Ingat, jangan ada yang mencuri-curi kesempatan seperti, apa Reya tolong sebutkan…” Terang Pak Dimas sembari langkahnya menuju depan papan tulis.

“Membuka secara perlahan buku fisika, Pak.”

“Kenceng juga nggak apa-apa, Rey.” Sahut Benny selaku ketua kelas malah mengompori suasana. Hal tersebut membuat Pak Dimas melemparkan pertanyaan kedua kepada Benny.

“Nomor dua apa, Benny?”

“Enggg..itu pak, tidak boleh berdiskusi dengan teman sebangku, kanan kiri, depan belakang.”

Good. Respon pertama, mulai dari Andin, tolong sebutkan sifat-sifat cahaya. Tidak boleh sama dengan temannya. Silahkan.”

Dan respon sebagai pembuka kelas fisika di pagi hari pun berlangsung tenang saat itu.


-❤-

Beberapa menit lagi, mata pelajaran fisika akan selesai. Pak Dimas memulai membereskan beberapa peralatan yang sedikit berserakan di meja. Dan hendak mematikan laptop.

“Oke, adik-adik. Sampai disini apakah ada yang perlu ditanyakan lagi?”

“Saya Pak, saya,,” Itu Monica yang berseru dengan semangat. Sepertinya ia memang sudah ingin menanyakan sesuatu kepada Pak Dimas.

“Ya, Monica. Silahkan.”

“Bapak kenapa sih tidak pernah marah atau salah tingkat bahkan abai dengan tindakan-tindakan kami yang menurut kami ya nggak penting juga sih, Pak. Hehe…”

Pak Dimas yang semula sedang memastikan laptopnya shut down dengan sempurna, beranjak dari kursi dan mulai mengitari meja peserta didiknya satu persatu.

“Dengar… dimana pun kalian berada, kalian tetap harus bersikap professional. Tuntun apabila anak didikmu salah, nasihati apabila anak didikmu bertingkah. Kalian semua ini adalah anak didik saya. Bagaimana saya akan menanggapi kalian yang terus berbicara tentang saya dan Reya. Tidak ada hubungan seperti itu. Baik Reya atau Monica, kalian semua sama. Sama-sama anak didik saya. Saya tidak mungkin akan salah tingkah atau bahkan ikut menimpali candaan kalian.   Karena saya tau, itu tidak baik walau niatnya hanya bercanda. Gunakan candaan kalian pada tempatnya, kalian juga perlu mengingat bahwa sekolah kita menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku. Jika saya menanggapi, lantas akan jadi apa sekolah ini?”

“Jadi Pak Dimas biasa saja sama Reya? Tidak naksir gitu, Pak? Reya cantik loh, Pak. Saya aja naksir seandainya saya cowok.” Sahut Hani yang berada di meja belakang.

“Tidak. Salah satu profesionalisme guru adalah mengarahkan dan menumbuhkan pola perilaku siswa. Jadi sama guru yang sopan, sebelum berkata dirangkai dulu mana kosakata yang benar. Gunakan bahasa Indonesia yang formal, dan jangan pernah merendahkan guru. Mengapa saya tidak pernah melakukan kekerasan kepada siswa meskipun saya diejek, atau dibuat marah sama kalian? Karena dalam kode etik guru, yang salah satunya berbunyi “Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang berpancasila” tetapi tidak menggunakan kekerasan/fisik ya… Jadi perlu diingat untuk adik-adik. Ayo, sama-sama kita belajar, belajar lebih baik.”

“Wah, Pak Dimas… saya makin ngefans sama bapak…” Puji Monica dengan menangkupkan kedua tangannya.

“Oke, itu saja. Reya ada pertanyaan?” Celetuk Pak Dimas iseng.

“Loh, Pak Dimas katanya…” Ujar Jojo dengan muka bingungnya

“Saya hanya bertanya saja. Jika tidak ada, bisa saya akhiri.”

 

-tobecontinue-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar