ASISTEN DOSEN
Setelah Pak Changwook pamit mau ada workshop dan presentasi akan didampingi oleh asisten beliau, disitulah kelas gue mulai rusuh. Bahkan udah ada yang ngeluarin bekal sarapan masing-masing.
"Nantiyang maju siapa dulu nih?" Pancing Jeno ketika ada kesempatan berbicara dibisingnya kelas.
"Ya kelompok satu lah. Dimana-dimana nomor satu tuh the first." Sahut Jisung sekenanya, tapi emang bener sih.
"Yeeee siapa bilang? Ada tuh yang kelompok satu, tapi majunya akhir? Timpal Renjun sewot dengan tangannya sibuk mengoperasikan laptopnya.
"Gini deh gini, misal nanti asistennya minta random atau siapa dulu yang mau maju dipersilahkan, kita maju aja. Biar nggak kepikiran. Gimana?" Ujar Mark memberikan ide yang 'cemerlang' tapi menurut gue, Jeno, dan Renjun, itu bukan ide yang cemerlang. Yakali tiba-tiba presentasi padahal kita kelompok satu aja bukan.
"Lo aja deh Mark, gue, Reya, sama Renjun habis lo." Jawab Jeno sok mendramatisir sembari mengibaskan tangannya.
"Stupid! Gue juga kelompok lo kali. Ya gue sih oke oke aja mau maju kapan, penting gue udah ngasih saran."
Renjun yang semula mengotak-atik
laptopnya, bangkit sambil mengangkat laptopnya dengan dua tangan.
"Gue siapin dulu. Siapa tau ini laptop nggak jodoh sama kabel LCDnya."
Mark mengacungkan jempolnya sebagai balasan. Sedangkan gue dan Jeno terlihat pasrah ajalah, apa kata nanti lebih baik.
Hingga beberapa detik berikutnya, Renjun hendak mencolokkan kabel ke dalam port laptop urung ketika laki-laki asing masuk ke dalam kelas.
Jeno bahkan memberikan aba-aba dari kursinya agar Renjun segera duduk, namun perkataan laki-laki asing tersebut membuat Renjun tidak menggubris perintah Jeno.
"Nggak apa-apa, dik. Lanjutkan saja."
Sembari menunggu Renjun memasangkan layar laptop agar terlihat pada LCD, laki-laki asing tersebut berjalan ke belakang dan mengambil tempat paling belakang. Setelahnya, beliau laki-laki itu hanya menaruh tas dan berjalan kembali lagi ke depan.
"Selamat pagi, menjelang siang..." Ujar Laki-laki itu ramah.
"Pagi...pak...." Gue bahkan teman-teman gue terlihat ragu untuk memanggil Pak.
"Panggil Kakak saja ya, saya asisten Pak Changwook. Tadi saya diamanahi oleh beliau untuk mengisi jam beliau disini. Presentasi ya?"
"Iya, Kak."
"Baik, yang di depan itu kelompok berapa?"
"Empat, Kak." Jawab Mark sembari menyenggol kecil lengan gue.
"Kebetulan karena kelompok kalian sudah prepare, keberatan nggak maju duluan?"
"Nggak, Kak." Gue refleks teriak sedikit begitu siku gue dicubit kecil sama Mark. Kurang ajar emang lo, Mark Lee!
Gue menoleh ke samping dan menghadiahkan cubitkan kecil ke pinggang kirinya. Rasain!
"Oke, silahkan kalian persiapan. Boleh bawa kursinya ke depan untuk duduk."
"Baik, Kak."
Akhirnya gue, Jeno, dan Mark menyeret kursi kita ke depan dan tentunya menghadap ke arah audience. Sedangkan Renjun bagian monitoring sekaligus moderator maybe...
"Sambil menunggu, perkenalan dulu ya. Peribahasanya, tak kenal maka tak sayang, jadi perkenalkan nama saya Nakamoto Yuta. Panggilkan Kak Yuta aja ya, karena Nakamoto nama bapak saya. Hehe, mohon maaf garing. Ya garing lah, karena ini pembelajaran bukan lagi makan kerupuk."
"Hahaha," Tawa seisi ruangannya yang dibuat-buat, namun dengan itu Kak Yuta melihat ke belakangnya dan menjumpai gue yang sedang tersenyum ke arahnya, tak lupa juga Jeno dan Mark yang juga senyum ke arahnya.
"Silahkan kelompok empat, bisa dimulai." Ucap Kak Yuta yang setelah itu, beliau mengambil tempat duduk di bagian belakang, tempat beliau meletakkan tasnya tadi.
---
"Baik saya akan melanjutkan penjelasan berikutnya. Yakni mengenai teori belajar konstruktivisme. Menyambung apa yang telah dijabarkan oleh rekan saya, Mark, dan Jeno, saya akan memaparkan pengertian teori belajar konstruktivisme, prinsip-prinsipnya, ciri-ciri teori ini, kelebihan dan kekurangan, serta implementasi teori ini dalam pembelajaran fisika itu seperti apa. Jadi, disimak ya!" Jelas gue sambil berdiri dari kursi dan mencoba untuk tetap konsentrasi penuh ke arah audience. Tipsnya, jangan kebanyakan melihat power pointnya. Boleh sesekali melihat, tapi jangan keterusan.
"Next, Renjun." Ucap gue ketika Renjun nggak kunjung beralih ke slide berikutnya.
"Oke, yang pertama tentang teori konstruktivisme. Jadi apa sih sebenarnya teori ini? Teman-teman boleh membaca di ppt tersebut, namun lebih singkatnya teori ini merupakan teori pembelajaran yang berpusat pada siswa ketika menemukan suatu konsep, yang mana konsep yang telah ditemukan ini dapat dikaitkan dengan konsep yang telah mereka pelajari sebelumnya."
"Gampangnya saja, ketika siswa telah mempelajari konsep besaran fisika, kemudian siswa saat ini menemukan konsep baru pada gerak lurus beraturan, maka konsep yang telah dipelajari sebelumnya yakni besaran fisika, dapat dikaitkan dengan yang sedang dipelajari yakni gerak lurus beraturan. Apa kaitannya? Ada yang bisa membantu jawab? Mungkin Jeno bisa membantu."
Sontak Jeno yang sedang mengawasi gue dari duduknya, gelagapan. Dan beberapa detik berikutnya ia ikut berdiri dan membantu gue menjabarkan apa yang gue maksud. Maaf ya Jeno, gue emang teman lucknut
"Pada besaran fisika, siswa belajar tentang besaran pokok, dan besaran turunan. Diantara dua itu, mereka belajar jarak, perpindahan, kecepatan, dan percepatan. Lalu kaitannya dengan gerak lurus beraturan itu apa? Ya, keempat itu. Bagaimana peran jarak dalam gerak lurus beraturan, bagaimana peran kecepatan dalam gerak lurus beraturan, yakni kecepatan pada gerak ini konstan. Hal ini dapat didukung atau dibuktikan dengan praktikum. Kira-kira seperti itu." Tutur Jeno yang membuat gue sangat puas dan setelahnya ia kembali ke duduknya, jangan lupakan. Apapun keadaannya, tetap tersenyum.
"Kemudian ada prinsip-prinsipnya. Dimana prinsip ini tentunya menurut beberapa ahli. Saya ambil menurut Beyer seribu sembilan ratus delapan puluh lima, mengatakan prinsip teori konstruktivisme sama dengan problem based, dimana cara belajar ini paling baik untuk siswa dengan menyelesaikan suatu permasalahan tertentu. Contohnya siswa diberikan sebuah kasus tentang fisika, maka siswa tersebut diajarkan untuk menyelesaikan kasus tersebut sesuai dengan teori konstruktivisme ini."
"Next, Renjun." Ucap gue ke Renjun karena ia masih sibuk memperhatikan gue.
"Oke, selanjutnya ada ciri-cirinya. Ciri-ciri suatu pembelajaran yang sesuai dengan teori ini yakni menyediakan pengalaman belajar untuk pembentukan pengetahuan siswa, kemudian pembelajarannya di desain realistik yang artinya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, lalu siswa terlibat aktif agar timbulnya diskusi atau kerja sama dalam artian kerja sama yang sebenarnya ya, bukan yang abal-abal kayak dikasih ujian, eh malah kerja sama. Bukan itu ya maksudnya." Tutur gue dengan menyelipkan jokes-jokes receh, tapi tetap saja Mark yang ada di belakang gue berusaha menahan tawa. Padahal menurut gue ya nggak ada lucu-lucunya.
"Selanjutnya ada kelebihan dan kekurangan. Pastinya, sesuatu yang ada pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, tak luput juga teori konstruktivisme ini. Salah satu kelebihannya adalah membentuk siswa agar memiliki rasa tanggung jawab untuk belajar mandiri, dan tentunya, pemahaman yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi. Disamping itu, kelemahan dari teori ini salah satunya adalah pemahaman siswa yang sudah diperoleh sendiri ternyata tidak sesuai dengan teori yang ada. Sehingga menimpulkan miskonsepsi."
"Contoh yang paling sederhana tapi sangat disepelekan adalah pada gerak lurus berubah beraturan, itu kan ada dipercepat dan diperlambat. Pasti siswa mengira dipercepat itu yang kecepatannya positif, dan diperlambat itu kecepatannya negatif? Betul atau betul? Atau percepatan yang diperoleh negatif, maka gerak tersebut merupakan gerak lurus berubah beraturan diperlambat, betul atau betul? Padahal itu merupakan miskonsepsi, dimana siswa mengalami kekeliruan konsep dalam hal itu. Oleh karena itu, kita sebagai calon pendidik nantinya harus bisa meluruskan konsep yang benar itu bagaimana ke siswa kita. Agar miskonsepsi ini tidak turun temurun. Seperti itu."
"Terakhir, implementasi teori ini dalam pembelajaran fisika. Ya, teori konstruktivisme ini dapat dikolaborasi dengan model pembelajaran PBL, Problem Based Learning dengan mempengaruhi variabel kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dengan menawarkan beberapa kasus atau permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, PBL sangat cocok untuk menunjang teori ini. Dimana pengetahuan dikonstruksikan sendiri oleh siswa."
Selanjutnya Renjun diikutin Mark dan Jeno, berdiri dan mengambil tempat di samping gue.
"Demikianlah materi yang sekiranya
dapat kami jabarkan dan jelaskan kepada teman-teman. Apabila ada feedback atau
pertanyaan dipersilahkan. Sebelumnya, jika ada salah kata, mohon dimaafkan.
Sekian terima kasih." Ucap Renjun tegas kemudian kami mulai menerima
beberapa pertanyaan dan siap kami jawab saat itu juga.
---
