BETWEEN US
Karya, Fara Audina B.Q
REYA DAN ARTIKEL INTERNASIONALNYA
Karya, Fara Audina
B.Q
Kuliah
sore gue hari ini diisi dengan beberapa materi baru, pengetahuan baru dari Pak Dimas.
Pak Dimas selaku dosen Fisika Modern gue, sekaligus Praktikumnya memberikan
sebuah tugas. Yaitu, membuat artikel ilmiah, dengan data yang diambil dari data
teman yang telah melakukan praktikum. Misalnya, gue kebagian praktikum besok
adalah penentuan muatan spesifik elektron, sedangkan gue ‘kan belum praktikum topik
itu, tapi Jevan dan Mahesa sudah. Jadi, gue pakai data Jevan dan Mahesa untuk
gue susun sebagai artikel ilmiah. Sifat artikel ilmiah ini adalah individu. Jadi,
nggak berkelompok.
“Oke,
sudah jelas semua?” Tanya Pak Dimas di menit terakhir kelas praktikum fisika
modern ini.
“Mungkin cukup, bapak.” Ujar Haykal dengan
mata kantuknya.
Iya
sekarang jarum jam menunjukkan pukul setengah 5. Yang artinya, gue sama de geng
–Nana, Jevan, Mahesa, Rendy, Haykal, Daffa— sudah dari pagi sampai jam segini
betah di kampus. Maklum hari senin. Tadi pagi udah full sama mata kuliah yang 4
SKS itu tuh, yang kejadian Jevan nggak bawa flashdisk. Ingat ‘kan kalian?
“Haykal
sudah capek ya?” Goda Pak Dimas sembari beliau berdiri dari duduknya, “Ya sudah,
pembelajaran saya akhiri disini. Tenggat artikel ilmiah 2 minggu. Lewat deadline tidak akan saya terima. Terima kasih…”
Lanjut beliau lalu meninggalkan kami ke ruang pantau monitor.
Selepas
itu, kelas gue sibuk merenggangkan pinggang, ada yang pasang posisi nyaman,
kayak Haykal sekarang yang malah rebahan
di lantai, dan ada sebagian yang memilih melepas jas lab dan langsung keluar
dari ruangan. Sedangkan gue sendiri masih sibuk bercengkrama dengan Nana.
“Gimana,
Na? Setuju nggak?” Tawar gue kepada Nana ketika melihat ekspresinya yang mulai
mempertimbangkan sesuatu.
“Heh!
Lo berdua nawar apaan? Mana nggak ngajak gue lagi.” Sahut Haykal segera bangkit
dari posisi rebahannya.
“Reya
ngajak gue ngerjain artikel ilmiah di kanopi. Ikut nggak?” Jawab Nana sambil
menyampirkan tasnya di bahu.
“Loh,
Reya kan pakai data gue. Kenapa malah lo yang diajak ngerjain bareng?” Tutur Jevan
yang mendengarkan obrolan gue, Nana, dan Haykal merasa tak terima.
“Tinggal join aja ribet lu…”
Ledek gue sambil berlalu melewatinya. Namun, beberapa detik kemudian yang lain
juga pada ngikutin untuk keluar dari ruangan.
-❤❤❤-
Hari
mulai petang ketika gue dan de geng membuka laptop masing-masing dan
mempersiapkan segala perkakas sebelum berperang dengan beberapa artikel untuk menyusun
artikel ilmiah. Nggak semua member sih kumpul, hanya ada Nana, dan Haykal disini.
Daffa, Rendy, Mahesa, dan Jevan pergi beliin makan malam buat kita-kita. Seperti
biasa, Bandar gofood lagi nggak ada
duit buat pesen, jadi manual aja dah alias nyamperin penjualnya.
“Ngomong-ngomong
gue ngantuk banget gila.” Seru Haykal yang berada di samping gue. Detik kemudian
kepalanya sudah ia sandarkan ke atas meja sembari menelungkupkan kedua
tangannya.
“Tidur
aja, Kal. Ntar bangun pas mau pulang aja.” Ujar Nana mengusili Haykal yang
nggak bergeming dari posisinya. Kayaknya Haykal lagi beneran ngantuk deh…
“Rey…”
“Hm?”
“Rey…”
“Apa
sih, Na?”
“Tumben
lo tadi nggak ada interaksi-interaksi sama Pak Dimas? Berantem ya?”
“Enggak.
Kenapa sih malah bahas Pak Dimas?”
“Ya
kan kita lagi ngerjain tugas dari beliau. Masa lagi ngerjain fismod, bahasnya
Pak Hadi.” Sewot Nana nggak terima.
“Ya
bener juga sih…”
Beberapa
detik kemudian percakapan gue sama Nana berhenti karena yang beli makanan sudah
datang. Jevan membagikan nasi bungkus yang ia pesan. Total ada 7 nasi bungkus. Sedangkan
Rendy bagiin minuman yang ia pesan, ada beraneka rasa karena ya selera orang
berbeda-beda. Kaya gue lebih suka Thai Tea, sedangkan Nana Cappucino, Jevan
Milo, ya jadi beda-beda lah intinya.
“Ini
tadi pakai uangnya siapa dulu?” Tanya gue sambil membuka nasi bungkus ke arah
Mahesa yang mengambil tempat duduk di depan gue.
“Kalau
minum, Rendy. Terus kalau makannya, Jevan.” Jawab Mahesa sebelum menyedot bubble drink-nya.
“Oh…
ini makan duluan yak, biar nggak laper habis ini kita eksekusi.”
Selanjutnya kami makan dengan diam namun sesekali diisi oleh percakapan
singkat dari Jevan, dan tentunya usilan Daffa yang mencoba membangunkan Haykal.
-❤❤❤-
Habis
makan, masing-masing membereskan bungkus makanannya sendiri dan beranjak cuci
tangan di wastafel bawah tangga. Kita sengaja nggak bangunin Haykal buat makan,
karena ya dibangunin juga nggak ada tanda-tanda buat bangun. Terus anaknya juga
kelihatan capek banget. Jadi yaudahlah, biarin.
“Kata
Pak Dimas berapa rujukannya?” Tanya Mahesa sebagai pembukaan sehabis makan
malam
Iya
guys, kita sampai malam disini. It’s okay
meskipun masih 2 minggu lagi, seenggaknya dicicil. Mau disini dua jam tiga jam
juga nggak masalah. Yang penting nggak lama-lama.
“Dua
puluhan kata Pak Dimas. Terus diwajibkan ada artikel internasionalnya juga.”
Sahut Daffa dengan matanya yang fokus pada layar laptop.
“Gila
banget nggak sih dua puluh artikel? Yang inter berapa?” Timpal Jevan mengompori
untuk melanjutkan obrolan.
“Lima.”
Tukas Rendy cepat dengan tangannya yang sedaritadi tidak diam untuk
membangunkan Haykal.
“Kal,
woy.. bangun… anak-anak udah mulai progress
nih. Lo makan dulu kek, ntar nasi lo dingin terus minuman lo cair.” Ucap Rendy
tepat di telinga Haykal dengan sedikit berteriak.
“Ck,
berisik lo, Ren! Lagian minuman kan emang udah cair.” Gumam Haykal sembari
menggeliatkan sedikit badannya. Kemudian lanjut tidur lagi.
“Yaudah
terserah.”
“Eh, gue udah dapet artikel inter.”
Seloroh Mahesa dengan muka girangnya, “Bahasa inggris kan?” Lanjutnya lagi yang
tampak ragu dengan artikel yang ia peroleh.
“Iya, bahasa inggris.” Jawab Jevan yang
ada di sebelah Mahesa.
“Hng, kok gue ragu ya? Soalnya kayak…bentar,
gue kirim di grup deh. Coba lo pada lihat.” Jelas Mahesa sembari tangannya
dengan cepat menari-nari di atas keyboard.
Begitu ada notifikasi Whatsapp dari grup kita, gue langsung
cepat mengunduh pdf yang telah
dikirim Mahesa dan nge-check benar
tidaknya yang dimaksud Mahesa.
“Gimana? Udah pada buka belum?” Tanya
Mahesa ke semuanya
“Bentar, masih loading. Kayaknya ini wifi-nya
nggak mau temenan sama laptop gue deh,” Keluh Daffa yang ternyata masih sibuk
mengatur koneksi internet.
“Siniin gue bantu.” Tanpa berkata apapun
lagi, Rendy menyeret laptop Daffa hingga dekat dari jangkauannya.
“Lo gimana, Rey?” Mahesa melemparkan
pertanyaan itu ke gue seorang diri.
Gue bersyukur dalam hati karena sebelum
ini, gue pernah diajarin sama Pak Dimas bagaimana cara bedain ini tuh artikel
internasional apa enggak. Soalnya kan bahasa inggris. Jadinya gue ngira kalau
bahasa inggris, sudah jelas ini artikel internasional. Namun, kata beliau
ternyata itu salah. Ada beberapa kriteria sebenarnya.
“Ya kalau gini sih Mahes… bukan artikel
internasional lah.”
“Kok bisa gitu, Rey?” Tanya Jevan, Nana,
dan Mahesa serempak.
“Gini. Jadi, yang lo kirim ini artikel
internasional apa bukan, lo bisa identifikasi kriteria-kriterianya dulu. Nggak serta
merta yang pakai bahasa inggris, lo anggap artikel inter. Nggak gitu.” Gue
mencoba menjelaskan dengan pelan-pelan. Pun dengan Rendy dan Daffa yang telah
selesai dengan kegiatannya –mengatur koneksi internet—
“Terus kriterianya apa dong?” Sambung
Nana sembari mengerutkan keningnya bingung.
“Check-in
satu-satu ya…” Pinta gue ke Mahesa.
“Siap, Rey..”
“Ditulis sesuai dengan kaidah ilmiah dan etika keilmuan.”
“Iya, cocok.”
“Ada ISSN-nya nggak?”
“Eh, nggak ada dong. Aduh bego banget gue.”
“Nah kan, udah berarti bukan inter itu. Internya abal-abal.”
“Oke deh, makasih ya, Rey. Gue coba cari lagi deh…”
Gue mengangguk sebagai jawaban. Kemudian beberapa detik
selanjutnya Jevan beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah gue dan
mengangkat Haykal dengan sekali ringannya. Lalu, ia baringkan di kursi
miliknya. Kebetulan Jevan ada di depan gue tadi, dan tempat duduknya tuh bukan
kursi satuan, tapi kayak kursi panjang gitu. Jadi, buat rebahan Haykal. Merasa
kasian kali.
“Lah, malah deket-deket gue. Ngapain?” Tanya gue
kebingungan ketika Jevan malah mengambil duduk di sebelah gue.
“Mau deket sama lo aja, hehe.” Tutur Jevan lembut
sambil tersenyum lebar.
“Yee, gue kira lo ngerasa kasian sama Haykal. Makanya lo
peka.” Jawab gue sembari menoyor sedikit kepalanya.
“Lo juga peka dong.”
“Dih apaan sih…”
“Yaudah, yaudah, sebenarnya gue cuma pengen nanya doang
kok, Rey.”
“Nanya apaan?”
“Buset galak bener.”
“Iya nanya apa Jevan ganteng?”
“Kriteria artikel internasional tuh apa aja sih? Biar gue
bisa memilah-milah artikel inter gitu. Lo pasti diajarin sama Pak Dimas ya?”
“Sotoy luuu..”
“Gue kan cuma nebak.”
“Yaudah.. Jadi, lo kalau mau nyari artikel
internasional dicheck-in dulu. Yang pertama ditulis sesuai kaidah ilmiah, yang
kedua ada ISSNnya, terus pakai bahasa resmi PBB, jadi nggak bahasa inggris aja
sih sebenarnya. Ada bahasa arab, rusia, terus ada terbitan onlinenya, habis itu
dikelola secara professional, terus editornya tuh pakar ahli di bidangnya. Dan itu
tuh minimal berasal dari empat Negara gitulah. Terus lo ambil jurnalnya tuh
dimana itu penting. Jangan asal ambil aja kayak dari slideshare lo ambil,
jangan atuh. Usahain jurnalnya tuh ada karya ilmiah yang ditulis dari berbagai Negara,
terus artikel di dalamnya nih, diterbitkan dalam satu issue gitu yang ditulis
dari berbagai Negara. Kalau mau yang bereputasi, berarti harus terindeks scopus
atau sesuai sama laman-laman yang dipertimbangin sama tim pakar Ditjen Dikti.”
Gue menjelaskan sembari memperlihatkan salah satu artikel internasional benar
yang telah gue temui. Maksud gue, udah sesuai kriteria gitu.
“Ah, I see. Pantesan gue sering kena zonk mulu. Kayak Mahesa
juga sih…”
“Hooh, gue malah langganan. Ya gue mana tau, Rey. Penting
bahasa inggris terus dapat kayak dari link apa gitu intinya nggak dari blogspot
ya gue anggep inter. Bego banget kan gue?” Sahut Mahesa dari tempat duduknya
dan menyedot Green Tea-nya yang belum
habis.
“Nggak apa-apa kali. Kan namanya belajar. Sekarang kan
lo udah tau, makin bagus dong nyari artikelnya ntar. Lagian baru semester 4,
nggak apa-apa. Pelan-pelan.”
“Sayang deh sama, Reya. Thanks ya, Rey..” Ujar Mahesa
dengan tulus dengan melemparkan pandangan hangat ke arah gue.
“Gue juga..” Ujar Jevan sama, pun dengan tangannya yang
mencoba mengetikkan sesuatu di search
engine. “Lo kayak gitu beneran nyari-nyari sendiri apa diajarin Pak Dimas
sih?” Lanjutnya tanpa menatap gue.
“Diajarin lah. Soalnya gue nanya. Coba gue nggak nanya
juga beliau nggak bakal ngajarin. Makanya lo kalau di kelas, nanya juga dong..”
“Hehe, yaudah yok bisa yok… semaleman ini nyari
referensi aja dulu yang sekiranya pas sama topic praktikum kita. Batasi nggak?”
Tawar Jevan ke lainnya sembari berdiri dan jalan menuju Haykal. Ia berusaha membangunkan
Haykal sekali lagi.
“Harus lah. Gila kali semaleman disini. Jam 9 aja deh.”
Usul Rendy yang semula hanya tim nyimak.
“Yaudah guys,
banyakin artikelnya. Habis itu pulang. Udah malem juga. eh tapi kok kanopi
makin rame ya tolong…” Racau Daffa tidak jelas namun tetap saja diangguki Nana.
-❤❤❤-
.
.
notes!
teman-teman SparklingDoy, disini pakai nama lokal ya^^
Kim Doyoung as Pak Dimas
Huang Renjun as Rendy
Lee Jeno as Jevan
Na Jaemin as Nana
Lee Haechan as Haykal
Park Jisung as Daffa
Mark Lee as Mahesa
see you^^
wattpad : @/SparklingDoy
PROBLEMATIKA SISWI TERLAMBAT
Karya,
Fara Audina B.Q
SMA Impian Bunda
merupakan SMA favorit Di Kota Jakarta. SMA tersebut merupakan SMA yang
menjunjung nilai-nilai dan norma yang berlaku secara tinggi. Tidak heran, pagi
hari ini Reya dibuat kelimpungan dengan keterlambatannya menuju sekolah. Siapa
sangka, ia akan mematikan alarmnya ketika pengingat itu bordering tepat jam
lima pagi. Hingga, Reya hanya bermodalkan cuci muka, dan gosok gigi saja tanpa
memakan sarapan yang telah disiapkan oleh bunda.
“Nggak, gue nggak bisa lama-lama. Kena hukum Pak Dimas, mati gue.”
Rutuk Reya di dalam hati sambil memakai kaos kaki secara terburu-buru.
“Reya… sarapan dulu sayang…”
Teriak Ranty, Bunda Reya dari arah meja makan.
“Nggak ada waktu, bun.
Mending bunda bekalin aja buat, Reya. Nanti Reya makan pas istirahat.” Jawab
Reya sembari memakai sepatu.
“Kamu sih, udah bunda
bangunin nggak bangun-bangun. Tapi masih 20 menit lagi, Reya…” Ujar Ranty
sambil membawakan nampan yang berisi segelas susu dan bekal Reya.
“Nggak bisa, bun. Reya
takut telat. Jam pertama mapelnya fisika soalnya.”
“Yaudah, minum susu
dulu aja kalau gitu.” Seru Ranty dengan tangannya menyodorkan segelas susu
untuk Reya.
Setelah itu, Reya
menenggak segelas susu yang diberikan oleh bunda dan meminumnya dengan habis.
Tak lupa bunda memasukkan bekal ke dalam tas Reya.
“Berangkat dulu ya,
bun. Mwah…” Pamit Reya ke Ranty sambil mengecup pipinya.
Dengan
sedikit berlari, Reya menyusuri jalanan seorang diri, mengingat jarak sekolah
dari rumah hanya seribu centi.
-❤❤❤-
Setibanya di dalam
kelas, Reya sudah menduga bahwa ia akan telat. Yeah, Reya sangat membenci itu.
Telat pada jam pelajaran Pak Dimas. Sangat horor sekali. Namun, apa boleh buat.
Lebih baik terlambat daripada tidak
datang, itulah prinsip Reya selama sekolah.
Menetralkan sedikit
napasnya yang ngos-ngosan, Reya meraih botol minum di saku tasnya sebelum
mengetuk pintu.
Hingga ketukan ketiga,
tidak ada sautan dari dalam atau bahkan Pak Dimas keluar untuk membuka pintu
pun tidak ada, sampai akhirnya Reya memberanikan diri untuk membuka pintu dan
mengucapkan selamat pagi kepada Pak Dimas yang sedang mengabsen siswa.
“Hei, siapa nama kamu?”
Cegah Pak Dimas ketika melihat anak didiknya berjalan melewati mejanya.
“Reya bapak,
Keyscaxandra Reya.”
“Berdiri disitu.” Titah
Pak Dimas dengan suara dinginnya.
“Udah gue duga akan begini.” Racau Reya di dalam hati.
Menunggu Pak Dimas
mengabsen satu persatu siswa, hingga maniknya menatap beberapa temannya yang
sedang menyemangatinya dari meja.
“Fighting, kawan!” Itu teman-temannya di meja belakang sedang
mengirimkan semangat ke arah Reya.
Benar-benar kelas
terasa sedikit sunyi dan seram. Padahal jika dilihat menurut Reya, Pak Dimas
tidak ada seram-seramnya. Malahan, beliau terlihat tenang dengan wajahnya.
Tidak ada keseraman sedikit pun di wajahnya.
Reya berusaha
mengalihkan fokusnya agar tidak menatap Pak Dimas terlalu lama. Karena ia akan
tau kejadian selanjutnya seperti apa.
“Pak Dimas, Reya lagi
natap bapak.” Celetuk Jena dan Jojo yang sedang bersekongkol ngerecokin Pak
Dimas dan juga Reya.
Sekedar informasi, Pak
Dimas adalah guru termuda di SMA Impian Bunda. Beliau mengajar mata pelajaran
fisika. Khususnya mengajar kelas 11. Tak heran jika beberapa siswa kerap kali
menggoda Pak Dimas atau bahkan meledek. Sebagian siswa cowok juga tidak segan
untuk mengajak beliau berbicara dengan non-formal. Untuk itu, terkadang
disitulah letak ketegasan Pak Dimas dalam mengatasi tingkah siswa-siswinya yang
terlewat kurang sopan menurutnya.
“Reya, silahkan duduk.”
Melihatnya tidak tega, akhirnya Pak Dimas mempersilahkan Reya untuk duduk.
“Cie, Pak Dimas nggak
tega lihat bidadarinya berdiri lama-lama ya…”
Semua bersorak ke arah
Pak Dimas. Bahkan ada yang sampai mengeluarkan siulan serta bertepuk tangan.
Hal itu sukses mengundang tanda tanya bagi Reya. Menurutnya, ini merupakan hal
langka teman-temannya dapat mengejek Pak Dimas saat pembelajaran di kelas. Biasanya, mereka akan meledek Pak
Dimas jika berpapasan saja.
“Cie, lo dicengcengin
sama Pak Dimas. Tumpengan nggak nih? Lo kan naksir sama doi.” Bisik Felis
sambil menyikut lengan Reya ketika Reya menempatkan diri di sampingnya.
“Oke, adik-adik.
Silahkan di tutup buku kalian. Bapak akan memberikan respon kepada kalian.
Ingat, jangan ada yang mencuri-curi kesempatan seperti, apa Reya tolong
sebutkan…” Terang Pak Dimas sembari langkahnya menuju depan papan tulis.
“Membuka secara
perlahan buku fisika, Pak.”
“Kenceng juga nggak
apa-apa, Rey.” Sahut Benny selaku ketua kelas malah mengompori suasana. Hal
tersebut membuat Pak Dimas melemparkan pertanyaan kedua kepada Benny.
“Nomor dua apa, Benny?”
“Enggg..itu pak, tidak
boleh berdiskusi dengan teman sebangku, kanan kiri, depan belakang.”
“Good. Respon pertama, mulai dari Andin, tolong sebutkan sifat-sifat
cahaya. Tidak boleh sama dengan temannya. Silahkan.”
Dan
respon sebagai pembuka kelas fisika di pagi hari pun berlangsung tenang saat
itu.
-❤❤❤-
Beberapa menit lagi,
mata pelajaran fisika akan selesai. Pak Dimas memulai membereskan beberapa
peralatan yang sedikit berserakan di meja. Dan hendak mematikan laptop.
“Oke, adik-adik. Sampai
disini apakah ada yang perlu ditanyakan lagi?”
“Saya Pak, saya,,” Itu
Monica yang berseru dengan semangat. Sepertinya ia memang sudah ingin
menanyakan sesuatu kepada Pak Dimas.
“Ya, Monica. Silahkan.”
“Bapak kenapa sih tidak
pernah marah atau salah tingkat bahkan abai dengan tindakan-tindakan kami yang
menurut kami ya nggak penting juga sih, Pak. Hehe…”
Pak Dimas yang semula
sedang memastikan laptopnya shut down dengan sempurna, beranjak dari kursi dan
mulai mengitari meja peserta didiknya satu persatu.
“Dengar… dimana pun
kalian berada, kalian tetap harus bersikap professional. Tuntun apabila anak
didikmu salah, nasihati apabila anak didikmu bertingkah. Kalian semua ini
adalah anak didik saya. Bagaimana saya akan menanggapi kalian yang terus
berbicara tentang saya dan Reya. Tidak ada hubungan seperti itu. Baik Reya atau
Monica, kalian semua sama. Sama-sama anak didik saya. Saya tidak mungkin akan
salah tingkah atau bahkan ikut menimpali candaan kalian. Karena saya tau, itu tidak baik walau niatnya
hanya bercanda. Gunakan candaan kalian pada tempatnya, kalian juga perlu
mengingat bahwa sekolah kita menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku. Jika
saya menanggapi, lantas akan jadi apa sekolah ini?”
“Jadi Pak Dimas biasa
saja sama Reya? Tidak naksir gitu, Pak? Reya cantik loh, Pak. Saya aja naksir
seandainya saya cowok.” Sahut Hani yang berada di meja belakang.
“Tidak. Salah satu
profesionalisme guru adalah mengarahkan dan menumbuhkan pola perilaku siswa.
Jadi sama guru yang sopan, sebelum berkata dirangkai dulu mana kosakata yang
benar. Gunakan bahasa Indonesia yang formal, dan jangan pernah merendahkan
guru. Mengapa saya tidak pernah melakukan kekerasan kepada siswa meskipun saya
diejek, atau dibuat marah sama kalian? Karena dalam kode etik guru, yang salah
satunya berbunyi “Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk
manusia pembangunan yang berpancasila” tetapi tidak menggunakan kekerasan/fisik
ya… Jadi perlu diingat untuk adik-adik. Ayo, sama-sama kita belajar, belajar
lebih baik.”
“Wah, Pak Dimas… saya
makin ngefans sama bapak…” Puji Monica dengan menangkupkan kedua tangannya.
“Oke, itu saja. Reya
ada pertanyaan?” Celetuk Pak Dimas iseng.
“Loh, Pak Dimas
katanya…” Ujar Jojo dengan muka bingungnya
“Saya hanya bertanya saja.
Jika tidak ada, bisa saya akhiri.”
-tobecontinue-