Sabtu, 27 Maret 2021

 

STEM itu Unik dan Asik Lho! Mau Bukti? Yuk, Dibaca!

 

Halo Doys…

Wah balik lagi nih dengan SparklingDoys yang membawa segudang pengetahuan baru buat Doys..

Hm.. kira-kira apa ya?

Yups, sekarang SparklingDoys ingin membahas terkait pembelajaran STEM nih.. wah seru nih kayaknya..

Sebelumnya, SparklingDoy ingin bertanya terlebih dahulu. Menurut Doys nih, STEM itu model pembelajaran atau pendekatan pembelajaran sih sebenarnya?

Hayo, dijawab ya. Dalam hati juga tidak apa-apa. SparklingDoy hitung sampai 3 ya.

Satu! Dua! Tiga!

Yap, jeng jeng, jadi STEM adalah pendekatan pembelajaran yang terintegrasi antara lain, Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika. Sesuai dengan nama ya, hehe.. S-T-E-M.

Nah, bahas satu-satu yuk dari huruf-huruf itu? Mau nggak, Doys?

Jadi yang pertama adalah Sains.

Sains sendiri dalam STEM singkatnya berisi tentang praktikum dan pengukuran. Jadi pembelajarannya harus ada praktikumnya. Ya, bisa dibilang STEM ini tidak sembarangan dipakai dalam pembelajaran. Sekiranya, ada beberapa materi yang tidak bisa diajarkan menggunakan STEM. Iya, materi itu adalah materi yang tidak ada praktikumnya.

Yang kedua!

Teknologi. Ya, nama ini tentunya tidak asing bagi kalian kan, Doys? Kita hidup sekarang aja apa-apa pakai teknologi. Bahkan mau makan pun pakai teknologi. Iya apa iya? Contohnya pakai gofood, grabfood, benar nggak? Nah, kalau makan aja pakai teknologi, masa pembelajaran nggak bisa?

Eits, tentunya bisa dong. Teknologi kolaborasi sama pembelajaran jadinya apa ya kira-kira? Yang pasti jadi luar biasa dan keren. Misalnya pengadaan praktikum visual, kemudian akses informasi yang valid dan terakreditasi, hehe. Apalagi ya, Doys? Banyak kan ya?

Yang ketiga!

Engineering. Ya, pastinya agak-agak belum mengerti terkait kata Engineering. Jadi engineering itu suatu produk rekayasa yang akan dihasilkan oleh siswa saat pembelajaran. Bisa berupa proyek atau prototype. Bahasa kasarnya kaya tugas proyek tapi ala-ala kasaran gitu, Doys. Nah, engineering yang dihasilkan ini nantinya dapat mewakili suatu materi yang sedang dibahas. Begitu ya Doys…

Yang keempat!

Matematika. Ya, jelas… sesuai dengan karakteristik STEM sendiri ya, bahwa STEM itu harus rasional, sehingga pola pikir yang dihasilkan dapat memacu rasa ingin tahu siswa sekaligus dapat memancing kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan masalah. Nah, menyelesaikan masalah ini dapat dibuktikan secara empiris dimana hal ini termuat di dalam matematikanya. Jadi, Matematika juga sangat dibutuhkan di STEM ya, Doys!

Nah, sekarang sudah tau kan STEM itu seperti apa dan kepanjangannya apa…

Semoga bermanfaat ya, Doys!

-xoxo, SparklingDoy-

Selasa, 23 Maret 2021

 

Kompetensi Ini Wajib Doys Punya Ketika Menjadi Guru

 

Hallo Doys…

Kembali lagi bersama SparklingDoy. Okidoki, kali ini kita akan membahas kompetensi guru ya. Buat Doys yang cita-citanya kepingin jadi guru, yuk kenali kompetensi-kompetensi yang wajib Doys punya.

Jadi umumnya, guru harus mempunyai 4 kompetensi ini. yaitu (1) kompetensi pedagogic, (2) kompetensi professional, (3) kompetensi social, (4) kompetensi kepribadian.

Nah yang akan SparklingDoy bahas adalah yang keempat, kompetensi kepribadian. Kenapa kok kepribadian? Karena guru memiliki pengaruh besar akan terbentuknya kebiasaan siswa untuk belajar. Sehingga dalam hal ini, guru tidak hanya sebagai pemberi materi saja, namun sebagai pembentuk karakter siswa.

Okidoki, Sebenarnya apa sih kompetensi kepribadian itu? Dan bagaimana cara untuk meningkatkannya?

Jadi, menurut Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang dimaksud kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. Kalau menurut SparklingDoy itu ya diartikan sebagai tindakan atau tingkah laku yang harus dimiliki oleh seseorang yang professional. Tingkah laku yang dimaksud seperti, cerdas, bertanggung jawab, akhlak terpuji, adil, disiplin, terbuka, luwes, dan masih banyak lagi.

Lantas, bagaimana jika di dalam diri guru kompetensi kepribadian ternyata masih lemah alias kurang? Bahkan siapa tau malah tidak ada?

Wah, tenang. Disini ada upaya yang dapat dilakukan guna kompetensi kepribadian guru dapat meningkat.

Apa saja hayo?

Yang pertama, guru dapat mengikuti kegiatan keagamaan. Kegiatan ini dapat meningkat keimanan dan ketakwaan. Dari situlah nanti kepribadian guru akan perlahan menjadi pribadi yang baik dan sebagaimana mestinya.

Yang kedua, guru dapat mengikuti kegiatan yang diberikan oleh pihak sekolah atau pemerintah. Contohnya saja MGMP.

Hayo ngaku nih siapa yang belum tau singkatan MGMP?

SparklingDoy kasih tau ya…

MGMP itu singkatan dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran. Nah, kegiatan ini nantinya dpaat memberikan wawasan, memberikan kebiasaan bersikap jujur, disiplin, percaya diri, dan masih banyak lagi kepada guru dalam melakukan tugasnya.

Okidoki, kira-kira seperti itu Doys yang bisa SparklingDoy share kali ini.

Terima kasih telah menyimak hingga akhir, I love you



-xoxo, SparklingDoy-

Rabu, 17 Maret 2021

Mengenal Model Pembelajaran Yang Super Collabs

Halo Doys…

Cie, balik lagi nih dengan SparklingDoy.

Kali ini melanjutkan sambungan kemarin ya, tentang model pembelajaran inovatif.

Jadi, Doys pasti penasaran kan tentang model pembelajaran yang inovatif itu apa sih contohnya? Yap, model pembelajaran kolaboratif salah satunya.

Okidoki, kali ini SparklingDoys mau bahas tentang model pembelajaran kolaboratif. Iya, kolaboratif. Siapa sih yang nggak kenal kolaboratif? Kolaboratif itu kolaborasi iya kan? Tentang sebuah tim yang sama-sama ngerjainnya, berbarengan… kurang lebih seperti itu.

Tapi memang benar itu sih, menurut KBBI kolaborasi adalah kerja sama untuk membuat sesuatu. Nah karena disini konteksnya dalam pembelajaran maka, kerja samanya dalam pembelajaran. Contohnya membentuk kelompok dan berdiskusi tentang suatu topic yang dilemparkan oleh guru.

Kenapa harus model pembelajaran kolaboratif?

SparklingDoy kasih tau alasannya ya.. tapi bagi yang merasa boleh meninggalkan jejak digital, hahaha…

Ngaku ya Doys yang susah berpendapat, atau malu saat mengutarakan ide/gagasan? Nah salah satu alternative penyelesaiannya adalah dengan bekerja kelompok. Disana, Doys dapat dengan bebas bertukar pendapat, saling menghargai, toleransi, serta melatih kepercayaan diri. Siapa tau kan diantara Doys disini ada yang ternyata gugup atau malu saat mengutarakan ide di depan guru/orang banyak, namun lancar bila di depan orang sedikit/kelompok kecil?

Sehingga, dengan model ini diharapkan Doys benar-benar aktif dalam pembelajaran. Jangan bergantung pada kelompok juga. ingat! Dikerjakannya secara bersama-sama, agar Doys juga mendapat hak untuk belajar ya!^^

 

-xoxo, SparklingDoy-

Selasa, 16 Maret 2021

 

Hm… Berapa Sih Penghasilan Dosen atau Guru itu?

 

Halo Doys… kembali lagi nih dengan SparklingDoy. Kali ini SparklingDoy ngebawain informasi yang wajib Doys tau. Iya, Doys yang punya cita-cita sebagai dosen atau guru.

Cie, yang menantikan sebenarnya apa saja sih yang didapatkan dari menjadi guru atau dosen?

Kita semua nggak munafik ya, Doys. Pastinya melihat dari penghasilannya kan. Tenang…

Ternyata semua itu sudah ada peraturannya loh dalam UU No.14 Tahun 2005. Percaya nggak nih?

Jadi terdapat pada pasal 52, yang berbunyi:

 

Pasal 52 menjelaskan terkait penghasilan dosen. Penghasilan tersebut meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, dan penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, tunjangan kehormatan, serta maslahat tambahan terkait prinsip pengahrgaan atau prestasi. Dimana penghasilan tersebut harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 

Kemudian dijelaskan lagi dalam pasal 53, yang berbunyi:

Pasal 53 menjelaskan terkati tunjangan profesi dosen yang nilainya setara dengan satu kali gaji pokok dosen. Tunjangan profesi hanya diperuntukkan dosen yang telah memiliki sertifikat pendidik.

Namun perlu diketahui ya Doys, agar mendapat tunjangan-tunjangan tersebut, Doys harus memiliki sertifikat pendidik, serta ya tentunya ada peraturan-peraturan lainnya. Dijelaskan pada pasal 54 yang berbunyi:

Pasal 54 menjelaskan terkait asal usul tunjangan fungsional dosen, yaitu berasal dari APBN dan dosen yang diberikan tunjangan fungsional selain telah memiliki sertifikat pendidik sebagaimana yang tertuang dalam pasal 53, dosen yang menerima tunjangan fungsional harus dosen yang diangkat oleh pemerintah.

 

Nah, pasti Doys berpikir tentang professor. Lalu professor itu apa?

Jadi, pada lingkungan universitas, tentunya pada UU No.14 Tahun 2005, terdapat jenjang jabatan gitu. Pernyataan ini tertuang dalam pasal 48 ayat (1), yang berbunyi:

Jenjang jabatan akademik dosen-tetap terdiri atas asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan professor.”

 

Jadi buat Doys yang ingin sekali menjadi Professor, boleh stay di blog SparklingDoy ya untuk informasi berikutnya. Kita membahas tentang professor yuk!

 

See you, di tulisan SparklingDoy selanjutnya!^^

 

-xoxo, SparklingDoy-

 

 

 

 

Jumat, 12 Maret 2021

 Buat Doys Yang Akan Menjadi Guru


Halo Doys… bagaimana nih kabar kalian? Semoga sehat selalu ya…


SparklingDoy ada pertanyaan nih buat kalian…


Kira-kira, kalau Doys sebagai guru, model pembelajaran apa yang akan Doys terapkan dalam pembelajaran Doys? Hm, sebelumnya sudah tau belum model pembelajaran itu apa?


Buat Doys yang belum tau, SparklingDoy kasih tau nih,


Jadi, model pembelajaran itu merupakan seluruh rancangan penyajian bahan ajar dimana bahan ajar tersebut mencakup semua aspek sebelum, sedang, dan sesudah pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru serta semua fasilitas yang dipakai baik langsung maupun tidak langsung dalam proses belajar itu.


Nah, model pembelajaran itu banyak sekali macamnya. Semua itu tergantung dengan kebutuhan Doys (calon guru, aamiin) atau kesesuaian dengan materi yang akan Doys ajarkan. Mungkin materi yang penuh dengan konsep, SparklingDoy saranin memakai model problem based learning. Next chapter, SparklingDoy akan membawakan daftar model pembelajaran ya… untuk saat ini Doys diajak untuk berkenalan dan sedikit berandai-andai terlebih dahulu.


Oh iya, tadi kan Doys dikasih pertanyaan ya? Bagaimana? Model pembelajaran yang seperti apa yang dipilih?


Doys pasti akan menjawab, “Ya model yang membuat siswa paham lah, terus buat hasil belajar siswa tuh meningkat. Bukan kaleng-kaleng.” Gitu kan pastinya? Hayo ngaku…


Padahal yang idealnya, model pembelajaran dipilih dan diterapkan harus sesuai dengan keterkaitan materi dulu. Jadi, pelajari materinya, kemudian lihat bagaimana bahasan-bahasan materi di dalamnya. Dengan mengeksekusi materi, nanti akan terlihat model pembelajaran apa yang sekiranya cocok buat mendampingi materi yang ajarkan itu.


Kan semua di dunia itu kan pasti ada kelebihan dan kekurangannya ye kan… nah, sama halnya dengan model pembelajaran. Model pembelajaran juga mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, oleh karena itu, mungkin Doys lebih baik menganalisis materi terlebih dahulu, baru kemudian memutuskan model pembelajaran apa yang cocok setelah melalui proses penimbangan kelebihan dan kekurangan. Xixixi, seperti itu ya Doys…


Okidoki, segitu dulu ya Doys, semoga bermanfaat buat Doys yang akan menjadi guru kelak. Aamiin…







-xoxo, SparklingDoy-

 

Kamis, 11 Maret 2021

Buat Doys yang Punya Cita-Cita Menjadi Guru atau Dosen!


Halo Doys, tau nggak sih sebenarnya menjadi seorang guru itu ternyata sulit dan nggak gampang lho… Menjadi guru tidak semudah yang kalian bayangkan… oleh karena itu Guru diakui menjadi sebuah profesi, dan termuat di dalam UU No.14 Tahun 2005, yakni UU tentang Guru dan Dosen. Eits, sudah tau belum perbedaan Guru dan Dosen???

Buat Doys yang belum tau nih, aku kasih tau ya…

Guru dan Dosen adalah sama-sama pendidik. Namun secara garis besarnya Guru merupakan sebutan untuk seseorang yang memiliki profesi di bidang pendidikan. Biasanya mengajar dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah. Sedangkan Dosen merupakan sebutan bagi salah satu komponen esensial yang mengajar di perguruan tinggi.

 

Jadi Doys sudah tau kan ya guru dan dosen itu seperti apa kira-kira…sudah bisa membayangkan ‘kan kalian?

 

Jadi sebagai Guru maupun Dosen, kalian harus tetap professional ya, karena dua profesi tersebut merupakan bidang pekerjaan khusus dimana sudah ada peraturannya di UU No.14 Tahun 2005. Salah satunya dilaksanakan sesuai prinsip ya.

 

Loh, gitu doang harus ada prinsipnya?

 

Hah? Gitu doang? Yakin bilang gitu doang? Nggak mudah loh jadi seorang professional, apalagi guru dan dosen. Sudah pasti hal tersebut menyangkut siswa. Siswanya nggak cuman satu, tapi sekelas. Iya kalau guru mengajar hanya mengajar satu kelas saja… kalau 5 kelas?

Jadi, jangan main-main ya Doys…

 

SparklingDoys, ambil dari Pasal 7 Bab III UU No.14 Tahun 2005 tentang prinsip profesionalitas ya. Pada ayat (1), berbunyi profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:

Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme

Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia

Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas

Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas

Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan

Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan profesi kerja

Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat

Memiliki jaminan perlindungan hokum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dan

Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.


Gimana Doys? Itu baru satu ayat dalam 1 pasal di Bab III loh, belum yang lain… hehe, tetap semangat ya Doys dalam mengejar cita-cita. 

Kata kolom komentar tiktok estetik sih, “Raihlah cita-citamu setinggi exoplanet meskipun kamu sekarang tinggalnya di Neo City” - anonim,2021

 

 

 

-xoxo, SparklingDoy-

Senin, 08 Maret 2021

ASISTEN DOSEN

 

Setelah Pak Changwook pamit mau ada workshop dan presentasi akan didampingi oleh asisten beliau, disitulah kelas gue mulai rusuh. Bahkan udah ada yang ngeluarin bekal sarapan masing-masing.

"Nantiyang maju siapa dulu nih?" Pancing Jeno ketika ada kesempatan berbicara dibisingnya kelas.

"Ya kelompok satu lah. Dimana-dimana nomor satu tuh the first." Sahut Jisung sekenanya, tapi emang bener sih.

"Yeeee siapa bilang? Ada tuh yang kelompok satu, tapi majunya akhir? Timpal Renjun sewot dengan tangannya sibuk mengoperasikan laptopnya.

"Gini deh gini, misal nanti asistennya minta random atau siapa dulu yang mau maju dipersilahkan, kita maju aja. Biar nggak kepikiran. Gimana?" Ujar Mark memberikan ide yang 'cemerlang' tapi menurut gue, Jeno, dan Renjun, itu bukan ide yang cemerlang. Yakali tiba-tiba presentasi padahal kita kelompok satu aja bukan.

"Lo aja deh Mark, gue, Reya, sama Renjun habis lo." Jawab Jeno sok mendramatisir sembari mengibaskan tangannya.

"Stupid! Gue juga kelompok lo kali. Ya gue sih oke oke aja mau maju kapan, penting gue udah ngasih saran."

Renjun yang semula mengotak-atik laptopnya, bangkit sambil mengangkat laptopnya dengan dua tangan.

"Gue siapin dulu. Siapa tau ini laptop nggak jodoh sama kabel LCDnya."

Mark mengacungkan jempolnya sebagai balasan. Sedangkan gue dan Jeno terlihat pasrah ajalah, apa kata nanti lebih baik.

Hingga beberapa detik berikutnya, Renjun hendak mencolokkan kabel ke dalam port laptop urung ketika laki-laki asing masuk ke dalam kelas. 

Jeno bahkan memberikan aba-aba dari kursinya agar Renjun segera duduk, namun perkataan laki-laki asing tersebut membuat Renjun tidak menggubris perintah Jeno.

"Nggak apa-apa, dik. Lanjutkan saja."

Sembari menunggu Renjun memasangkan layar laptop agar terlihat pada LCD, laki-laki asing tersebut berjalan ke belakang dan mengambil tempat paling belakang. Setelahnya, beliau laki-laki itu hanya menaruh tas dan berjalan kembali lagi ke depan.

"Selamat pagi, menjelang siang..." Ujar Laki-laki itu ramah.

"Pagi...pak...." Gue bahkan teman-teman gue terlihat ragu untuk memanggil Pak.

"Panggil Kakak saja ya, saya asisten Pak Changwook. Tadi saya diamanahi oleh beliau untuk mengisi jam beliau disini. Presentasi ya?"

"Iya, Kak."

"Baik, yang di depan itu kelompok berapa?"

"Empat, Kak." Jawab Mark sembari menyenggol kecil lengan gue.

"Kebetulan karena kelompok kalian sudah prepare, keberatan nggak maju duluan?"

"Nggak, Kak." Gue refleks teriak sedikit begitu siku gue dicubit kecil sama Mark. Kurang ajar emang lo, Mark Lee!

Gue menoleh ke samping dan menghadiahkan cubitkan kecil ke pinggang kirinya. Rasain!

"Oke, silahkan kalian persiapan. Boleh bawa kursinya ke depan untuk duduk."

"Baik, Kak."

Akhirnya gue, Jeno, dan Mark menyeret kursi kita ke depan dan tentunya menghadap ke arah audience. Sedangkan Renjun bagian monitoring sekaligus moderator maybe...

"Sambil menunggu, perkenalan dulu ya. Peribahasanya, tak kenal maka tak sayang, jadi perkenalkan nama saya Nakamoto Yuta. Panggilkan Kak Yuta aja ya, karena Nakamoto nama bapak saya. Hehe, mohon maaf garing. Ya garing lah, karena ini pembelajaran bukan lagi makan kerupuk."

"Hahaha," Tawa seisi ruangannya yang dibuat-buat, namun dengan itu Kak Yuta melihat ke belakangnya dan menjumpai gue yang sedang tersenyum ke arahnya, tak lupa juga Jeno dan Mark yang juga senyum ke arahnya.

"Silahkan kelompok empat, bisa dimulai." Ucap Kak Yuta yang setelah itu, beliau mengambil tempat duduk di bagian belakang, tempat beliau meletakkan tasnya tadi.


---


"Baik saya akan melanjutkan penjelasan berikutnya. Yakni mengenai teori belajar konstruktivisme. Menyambung apa yang telah dijabarkan oleh rekan saya, Mark, dan Jeno, saya akan memaparkan pengertian teori belajar konstruktivisme, prinsip-prinsipnya, ciri-ciri teori ini, kelebihan dan kekurangan, serta implementasi teori ini dalam pembelajaran fisika itu seperti apa. Jadi, disimak ya!" Jelas gue sambil berdiri dari kursi dan mencoba untuk tetap konsentrasi penuh ke arah audience. Tipsnya, jangan kebanyakan melihat power pointnya. Boleh sesekali melihat, tapi jangan keterusan.

"Next, Renjun." Ucap gue ketika Renjun nggak kunjung beralih ke slide berikutnya.

"Oke, yang pertama tentang teori konstruktivisme. Jadi apa sih sebenarnya teori ini? Teman-teman boleh membaca di ppt tersebut, namun lebih singkatnya teori ini merupakan teori pembelajaran yang berpusat pada siswa ketika menemukan suatu konsep, yang mana konsep yang telah ditemukan ini dapat dikaitkan dengan konsep yang telah mereka pelajari sebelumnya."

"Gampangnya saja, ketika siswa telah mempelajari konsep besaran fisika, kemudian siswa saat ini menemukan konsep baru pada gerak lurus beraturan, maka konsep yang telah dipelajari sebelumnya yakni besaran fisika, dapat dikaitkan dengan yang sedang dipelajari yakni gerak lurus beraturan. Apa kaitannya? Ada yang bisa membantu jawab? Mungkin Jeno bisa membantu."

Sontak Jeno yang sedang mengawasi gue dari duduknya, gelagapan. Dan beberapa detik berikutnya ia ikut berdiri dan membantu gue menjabarkan apa yang gue maksud. Maaf ya Jeno, gue emang teman lucknut

"Pada besaran fisika, siswa belajar tentang besaran pokok, dan besaran turunan. Diantara dua itu, mereka belajar jarak, perpindahan, kecepatan, dan percepatan. Lalu kaitannya dengan gerak lurus beraturan itu apa? Ya, keempat itu. Bagaimana peran jarak dalam gerak lurus beraturan, bagaimana peran kecepatan dalam gerak lurus beraturan, yakni kecepatan pada gerak ini konstan. Hal ini dapat didukung atau dibuktikan dengan praktikum. Kira-kira seperti itu." Tutur Jeno yang membuat gue sangat puas dan setelahnya ia kembali ke duduknya, jangan lupakan. Apapun keadaannya, tetap tersenyum.

"Kemudian ada prinsip-prinsipnya. Dimana prinsip ini tentunya menurut beberapa ahli. Saya ambil menurut Beyer seribu sembilan ratus delapan puluh lima, mengatakan prinsip teori konstruktivisme sama dengan problem based, dimana cara belajar ini paling baik untuk siswa dengan menyelesaikan suatu permasalahan tertentu. Contohnya siswa diberikan sebuah kasus tentang fisika, maka siswa tersebut diajarkan untuk menyelesaikan kasus tersebut sesuai dengan teori konstruktivisme ini."

"Next, Renjun." Ucap gue ke Renjun karena ia masih sibuk memperhatikan gue.

"Oke, selanjutnya ada ciri-cirinya. Ciri-ciri suatu pembelajaran yang sesuai dengan teori ini yakni menyediakan pengalaman belajar untuk pembentukan pengetahuan siswa, kemudian pembelajarannya di desain realistik yang artinya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, lalu siswa terlibat aktif agar timbulnya diskusi atau kerja sama dalam artian kerja sama yang sebenarnya ya, bukan yang abal-abal kayak dikasih ujian, eh malah kerja sama. Bukan itu ya maksudnya." Tutur gue dengan menyelipkan jokes-jokes receh, tapi tetap saja Mark yang ada di belakang gue berusaha menahan tawa. Padahal menurut gue ya nggak ada lucu-lucunya.

"Selanjutnya ada kelebihan dan kekurangan. Pastinya, sesuatu yang ada pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, tak luput juga teori konstruktivisme ini. Salah satu kelebihannya adalah membentuk siswa agar memiliki rasa tanggung jawab untuk belajar mandiri, dan tentunya, pemahaman yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi. Disamping itu, kelemahan dari teori ini salah satunya adalah pemahaman siswa yang sudah diperoleh sendiri ternyata tidak sesuai dengan teori yang ada. Sehingga menimpulkan miskonsepsi."

"Contoh yang paling sederhana tapi sangat disepelekan adalah pada gerak lurus berubah beraturan, itu kan ada dipercepat dan diperlambat. Pasti siswa mengira dipercepat itu yang kecepatannya positif, dan diperlambat itu kecepatannya negatif? Betul atau betul? Atau percepatan yang diperoleh negatif, maka gerak tersebut merupakan gerak lurus berubah beraturan diperlambat, betul atau betul? Padahal itu merupakan miskonsepsi, dimana siswa mengalami kekeliruan konsep dalam hal itu. Oleh karena itu, kita sebagai calon pendidik nantinya harus bisa meluruskan konsep yang benar itu bagaimana ke siswa kita. Agar miskonsepsi ini tidak turun temurun. Seperti itu."

"Terakhir, implementasi teori ini dalam pembelajaran fisika. Ya, teori konstruktivisme ini dapat dikolaborasi dengan model pembelajaran PBL, Problem Based Learning dengan mempengaruhi variabel kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dengan menawarkan beberapa kasus atau permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, PBL sangat cocok untuk menunjang teori ini. Dimana pengetahuan dikonstruksikan sendiri oleh siswa."

Selanjutnya Renjun diikutin Mark dan Jeno, berdiri dan mengambil tempat di samping gue.

"Demikianlah materi yang sekiranya dapat kami jabarkan dan jelaskan kepada teman-teman. Apabila ada feedback atau pertanyaan dipersilahkan. Sebelumnya, jika ada salah kata, mohon dimaafkan. Sekian terima kasih." Ucap Renjun tegas kemudian kami mulai menerima beberapa pertanyaan dan siap kami jawab saat itu juga.

---